Kamis, 08 Januari 2009

untaian kata


UNTUKMU YANG TERDESAK
Saudaraku, kuterpaku dalam sepi
mencari jawaban atas Tanya
di balik sandiwara pengeras hati
saudaraku, alam ini damai dalam linangan air matamu
Di antara untaian doa di saat sujudmu
Namun kini, alam menangis dalam linangan darahmu
Mengiring kepergianmu dalam mengantar jasad nan suci
Saudaraku, ku menangis digelapnya malam

Menjamah benang-benang kemunafikan yang telah membelenggu
Menggoyahkan langkah dalam suara merdu si hitam hati
Mereka meluluhlantahkan shimponi indah adzan fardhu
Menyilaukan mata dari kiblat nan agung
Ku terpaku dalam sepi
Kuteteskan airmata di semburat marahku
Merajam ulah para penebar perang
Dia telah merenggut damai jiwa
Menciptakan debu-debu pedih dalam raga
Membiaskan rona sedih dan tangis duka
Saudaraku, walau jiwa dan raga menangis
Mulut merintih di pelukan derita
Namun rahmtNya bersemayam di sisi jiwa
*Saat bom Israel meruntuhkan damai Gaza

Senin, 05 Januari 2009

cerpen


SPEKTRUM CINTA DARI NEGERI DONGENG
Olif sadar kalau spektrum itu menyengat hatinya cukup kuat. Bahkan terlalu kuat sehingga ia tak kuasa untuk menghindar. Hatinya berwarna kala spektrum itu menyapa. Menyalakan pelita di dasar hati dan menyinari hasrat yang hampir beku. Spektrum itu menguasai tiap puing mimpinya. Menerbangkan angan hingga ke negeri dongeng. Cinta, spektrum yang kau pancarkan telah menawarkan senyum di pinggir hati.
“ Permisi”
“ Oh…” Olif kaget. Tanpa disadarinya seorang laki-laki telah berdiri di hadapannya. Laki-laki yang telah membawa spektrum di hatinya. Apakah ini di negeri dongeng? Tanya hati kecilnya dalam girang.

Seperti mimpinya semalam, pangeran datang menjemput di pintu istana kemudian mereka bercengkerama di taman utama kerajaan. Di temani bunga mawar dan anggrek yang bermekaran, rumput hijau menawan, suara gemericik air bersama alunan lembut suara para dayang berbaju sutera ungu yang lincah memetik anggur. Pangeranku gumam Olif. Tapi semua akhirnya terdampar pada lembah yang gelap. Saat tahu kalau dia hanya ingin masuk kelas. Ternyata Olif telah cukup lama menghalanginya masuk kelas. Dengan senyum malu Arin beranjak dari pintu ke tempat duduknya. “ Altar” Suara itu sangat jelas dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Altar hanya terpaku di tempatnya memandang dengan sorot bingung pada sosok Olif yang pergi begitu saja tanpa jawaban. Namun, senyum itu cukup menggores belahan jiwanya. Dasar cewek aneh. Tapi kalau dipikir-pikir dia antik, unik dan luar biasa pikir Altar sambil tersenyum dalam makna yang tersembunyi.
***
“Yes. Uh… metode penelitianku dapat A” Olif bersorak girang memamerkan senyum untuk semua temannya. Seperti mimpi karena menurut rumor yang beredar susah lulus mata kuliah ini.
“Selamat ya.” Denting waktu seakan berhenti sampai disini. Angin pun enggan bertiup. Altar ngucapin selamat ke aku hatinya melayang melewati horizon.
“Mata kuliah ini memang sulit tapi kita bisa lulus dengan nilai A lagi. Kayak mimpi ya? Mungkin karena kita sama-sama pintar, he…he…” Altar tersenyum lebar. Sedangkan Olif hanya membisu dengan pikiran entah dimana. Itulah kalimat terpanjang yang pernah Altar ucapkan pada Olif. Karena melihat Olif diam saja, Altar melanjutkan “Kita boleh sama-sama dapat A tapi sepertinya aku perlu meralat ucapanku tadi. Kita nggak sama pintar. Kamu cuma lagi beruntung aja kalau tidak karena kebetulan mungkin akan bernasib sama dengan yang lain.” Altar memojokkan Olif.
“Kepedean banget sih, kamu tuh yang cuma nebeng nasib doang di ujung pulpen bapak. Beliaukan PA kamu. Lagian aku bisa kok buktiin kalau aku lebih bisa dari kamu.” Olif mulai panas. Dia memang tidak tahan dipandang sebelah mata dan cenderung suka nekat.
“Ok. Kita buktiin, siapa yang duluan S1 berarti dia lebih pintar. Kamu boleh deh nyuruh aku apapun kalau kamu menang.” tantang Altar dengan sorot mata penuh arti. Entah apa yang dipikirkan Altar sehingga dia berani menaruh taruhan seperti itu.
“Siapa takut. Kalau kamu menang, kamu… boleh minta apapun sama aku.” ucap Olif tak mau kalah. Altar tersenyum mantap sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Tapi apa yang kamu minta nanti tidak boleh melanggar HAM dan tidak boleh mencemarkan nama baik.” balas Olif tanpa menyambut uluran tangan Altar. Dia pun berlalu dengan sejuta keheranan, kok aku mau taruhan gituan ya. Altar kan bukan rivalku dan spektrum itu? sesal bathinnya.
***
Perpustakaan, warnet, dan rumah senior menjadi tempat nongkrong Olif sekarang. Bulan ini dia bertekad harus memasukkan judul ke pembimbingnya kemudian menyusun proposal penelitian. Olif yakin bisa mendahului Altar.
Siang malam Olif membaca untuk mendapatkan judul yang menggebrak. Entah apa yang dilakukan Altar sekarang? Bayangan itu kembali mencul mengganggu pikirannya. Mungkin Altar harus menjadi rivalku sekarang demi nama baik. Tapi bagi Olif, Altar tetaplah sosok yang menghantui mozaik harinya.
“Judul aku ditolak. Katanya terlalu biasa dan sederhana. Hm… sebaiknya aku melakukan observasi aja dulu, mungkin di luar sana ada fenomena yang menarik.” desah Olif diantara ceritanya kepada Mai. Sebenarnya Mai heran dengan sikap Olif. Kenapa Olif terlalu berambisi selesai tahun ini? Bukannya itu terlalu cepat? Tiga tahun empat bulan adalah waktu yang terlalu singkat untuk merampungkan kuliah.
Tak ada kabar tentang Altar. Olif menjadi gelisah sendiri dan harus berbaur dengan berbagai pertanyaan. Apakah Altar terlalu sibuk mengurus skripsinya sampai lupa ke kampus? Hati Olif menjadi ciut. Ada ketakutan yang mulai menyusup ke relung hatinya. Bagaimana kalau dia kalah? Apa yang akan diminta Altar padanya? Ah, sungguh kebodohan yang tak terperikan.
Hari-hari Olif menjadi serba sibuk. Dia tidak mau kehilangan waktunya hanya untuk mengurus rindu yang nakal di bilik jiwanya. Olif rindu sosok Altar yang selalu mengejutkannya. Altar terlalu gagah di matanya. Cool tapi humoris, alim tapi gaul, agak nakal tapi berprestasi. Andai Altar tahu?
***
Enam bulan telah berlalu, tetap tak ada kabar dari Altar. Setitik harapan untuk menang menggantung di pelupuk mata Olif yang baru selesai merampungkan hasil penelitiannya. Sepertinya bulan Maret yang akan mendatangkan kemenangan itu. Tahun ini tak mengikhlaskan detiknya untuk kemenangan Olif.
“Hai… Wah udah lama banget ya kita nggak ketemu. Kamu masih ingatkan taruhan kita?” Altar tiba-tiba muncul mengagetkan Olif yang sedang serius membaca. Akhirnya Olif bisa juga melihat sosok itu lagi. Dan spektrum yang terus dia kubur mengangkasa di langit hatinya. Tapi itu hanya sesaat, karena setitik harapannya tinggal jejak kala melihat pakaian Altar. Hitam-putih.
“Gimana jadi wisuda bulan ini?” Olif telah kalah dalam pertarungan yang dibentuknya sendiri. Olif harus mengakui kalau Altar memang pintar .
“Kamu mau meminta apa? Tapi ingat syaratnya.” ucap Olif kemudian dengan wajah juteknya dan berusaha memasang sikap berwibawa. Dia tidak mau kelihatan terlalu bodoh di mata Altar. Senyum penuh kemenangan Altar berkembang. Dia sebenarnya sudah tahu semua tentang Olif termasuk saat judulnya ditolak dan penelitiannya yang gagal.
“Aku hanya minta… kamu memakai cincin ini sebagai pengikat hati kita. Kamu bersediakan jadi calon permaisuriku” Altar menyerahkan kotak cincin berwarna ungu kepada Olif. Akhirnya kalimat itu berhasil juga dia keluarkan dari mulutnya. Tidak sia-sia dia mengeja kalimat itu di setiap spasi skripsinya.Olif kehilangan ekspresi wibawa yang sempat dia pasang beberapa menit lalu. Apakah ini di negeri dongeng? Pertanyaan itu kembali muncul bersama spektrum yang telah menguasai seluruh jiwa raganya.

Selasa, 30 Desember 2008

puisi buat bunda


EMBUN CINTA SANG BUNDA
Menatap serpihan waktu yang terkapar
Terlena pada duka kering terhampar
Meniti hari dengan senyum hambar
Bersama perih yang terus menyambar
Tak Pernah Kuraih Kasih
Tak Pernah Kulirik Sayang
Walau Berdenting Hasrat
Tuk Jumpa Bunda Di Ujung Waktu
Bersama alunan pagi kurangkai rindu buatmu,bunda
Menyulam sisa kasih yang pernah kudapat

Melukis wajah yang tak pernah kukenal
Berbusa mulut pun bicara
Aku tetap tak pernah tahu
rintihan bening di ujung mata
mengaung di antara suara sumbang yang terus memanggil
bercengkrama di antara tanya yang terbungkus ….
bunda,engkau ada dimana?
Ingin ku cium tanganmu
Dalam dawai cinta tak terperih
Ingin ku kecup pipimu
Dalam alunan sayang tak bertepi
berjuta hasrat hanya mampu bergantung di tepi langit
tersapu mendung di sore hari
Bunda,ingin kuhaturkan maaf atas kecewaku
Ingin kuhapus duka atas sesalku
Ingin kubuang rasa iri atas saudaraku
Dan ingin kudengar jawaban atas tanyaku
Mengapa kau tinggalkan aku di gerbang ini?
Sendiri terpuruk oleh sepi
Berkawan tak berpihak
Tanpa pernah rasakan belaianmu
Bunda
Hanya embun pagi yang mampu kusemai
Bersama embun cinta yang pernah kau teteskan padaku
16 Desember 2008

Cerpen


LAKI-LAKI DI SUDUT KAMAR
Sore yang beku oleh kabut di cakrawala terbias warna kelam yang menyiratkan kematian. Menggiring warna indah sunset yang jelas terbias lewat jendela kamarku ke gerbang gelap tak terbaca dan hembusan angin bagai nafas yang gerah menanti waktu. Benarkah tak ada lagi mentari pagi setelah sore ini? Tiada lagi kenangan yang akan tercipta bersama kerikil jalanan yang terseok oleh hentakan langkah? Dadaku sesak laksana tiada lagi oksigen yang tersedia untukku. Ucapan dokter Ridwan telah membom istana harapan dan cita-cita yang ku bangun di dasar hati berlinang peluh diantara doa dan jerih payah papaku.
Aku bukanlah orang yang melankolis tapi entah kenapa aku selalu tersenyum bila sore datang, mungkin karena ia menyiratkan sebuah makna bahwa matahari yang gagah dan ganas dengan panasnya pun akan redup bersama waktu. Tapi ada satu hal yang selalu kutunggu saat memandang matahari sore.

Saat terindah yang akan menawarkan senyum manis dengan sinarnya yang menyiratkan kedamaian. Bulan…Tapi mengapa sore ini bagai penutup waktu yang mengerikan? Cerianya makhluk Allah kembali ke peraduannya bagai alunan maut yang mencekam.
“Salman…lho kok duduk di sudut kamar?” Suara nenek menghentikan shimponi yang berdendang di hatiku. Ku pandangi wajah tua yang masih menyimpan guratan cantik masa muda namun menyiratkan kelelahan itu dengan senyum yang kupaksa semanis mungkin. Akankah aku selalu ada di sisi engkau di hari tuamu? tanyaku diantara suara batin yang terjepit waktu.
***
Hidup tak mesti berhenti hanya karena vonis dokter, itulah yang kuyakini sekarang. Berjalan dalam rentetan waktu yang pasti kan berhenti besok ataukah nanti. Walaupun ucapan dr. Ridwan terus terngiang di telingaku.
“Kenapa baru periksa sekarang? Berdasarkan hasil Ultrasound (USG) dan Diagnostic mammography minggu lalu serta melihat tanda-tanda klinis seperti adanya benjolan, cairan encer dari puting susu, benjolan kecil pada ketiak serta bentuk dan ukurannya. Hm … kamu terkena kanker payudara stadium IIA jenis invasive breast cancer.” Ucapan itu bagai bom yang meledak di dasar hatiku. Aku tidak percaya kucoba menyanggah keputusan dr. Ridwan dengan dalih kanker payudara hanya untuk wanita, tapi jawaban apa yang kudapat? Semua hanya kemustahilan yang teraba namun berubah menjadi realita paling memilukan.
“Kanker payudara dapat terjadi pada semua usia. Kanker payudara dapat juga terjadi pada pria, meski hanya sekitar 2 persen dari seluruh jumlah kanker payudara. Dan faktor risiko yang menyebabkan anda mengalami ini karena pertama, kakak perempuan anda meninggal karena kanker payudara berarti anda punya riwayat keluarga. Kedua, anda pernah menjalani rontgen waktu kecelakaan karena luka di bagian dada itu berarti daerah dada pernah terkena radiasi. Di tambah lagi anda merokok dan … “
Panjang lebar dokter menjelaskan faktor risiko, teraphy, kelalaian aku sampai pengobatan namun semua tak mampu menggores makna di pikiranku yang tinggal hanya satu aku menderita kanker payudara. Lalu pengobatannya… Uh, aku menghela napas panjang, masih adakah harapan untuk orang miskin sepertiku mendapat pengobatan dengan peralatan yang canggih? Semua tak mungkin dapat kujalani karena tiada biaya yang bisa kupakai. Untuk cek up saja aku harus memakai uang beasiswaku bahkan meminjam uang dari temanku, aku punya kartu sehat tapi itukan cuma dapat subsidi buat pengobatan di puskesmas saja, itu pun kalau beruntung bisa dapat rujukan ke rumah sakit. Memang susah orang miskin seperti aku. Sebuah kepasrahan pada realita yang tak mungkin untuk dipungkiri.
Aku selalu berusaha untuk tegar dan tak larut oleh kekhawatiran dan sakit yang kurasakan ini. Cukuplah kondisiku ini menjadi rahasiaku untuk seumur hidup. Kembali kumulai aktivitas seperti sediakala, namun ada yang sedikit berbeda aku semakin sering menulis dan membaca karena aku harus merampungkan sebuah buku yang sudah kutulis sejak diterima sebagai mahasiswa. Sebuah jejak langkah seorang mahasiswa kucoba rangkai lewat tulisan sebagai inspirasi bagi adik-adikku kelak. Dan bagiku menulis itu untuk keabadian.
Kuamati tiap sudut kampus yang kulewati menuju tempat seorang gadis yang telah menunggu. Melisa, gadis yang sangat mencintaiku. Aku juga sangat mencintainya tapi sebuah keputusan besar harus kuambil demi sebuah seruan keabadian. Aku tak mau ia menderita karena keadaanku kini.
***
Dinding itu bagai menghimpit seluruh jiwa raga, remuk redam semua kebahagiaanku. Mata yang menatapku seakan mengejek dan menghina diriku yang terpuruk oleh kanker payudara. Hanya sudut kamar ini yang mau melindungiku dari perih yang teramat sakit di dadaku bahkan kurasakan menikam hingga ke kelenjar getah bening.
Andai papa, Adi, Doni dan nenek tahu. Apa yang akan mereka katakan? Akan diejekkah aku? Apakah mereka akan malu? Seharusnya mereka tidak malu karena ini bukan aib hanya tidak lazim saja, bisik hatiku menguatkan aku yang telah basah oleh peluh dan air mata. Mereka tak boleh tahu, tapi rasa nyeri ini seakan mendorongku untuk jujur. Sudah lama kupendam rahasia ini, tabir itu terus kubentang untuk menghalau nasehat dokter. Aku sudah tak peduli dan hanya mampu memanfaatkan waktu yang tersisa untuk sedikit berkarya.
Aku harus tetap bertahan walaupun berat resiko yang kuhadapi. Dan akan tergolek tak berdaya kelak. Mungkin ini sebuah kebodohan, tapi inilah yang terbaik untuk menjaga kebahagiaan yang mulai tercipta di keluargaku sejak ditinggal mama. Dan aku tak mau membebani ayah dengan biaya pengobatan yang terlalu mahal buat kami. Sebenarnya aku pun malu dan kadang bertanya kenapa harus penyakit ini?
Sudut kamarku yang beku oleh suhu malam ini adalah tempat ternyaman bagiku. Dan airmata adalah sahabat pelipur lara. Mungkin terdengar terlalu melankolis. Walaupun aku gagah di barisan PASKIBRAKA, pemberani di rombongan SARS dan jenius di English Club tapi aku tetaplah laki-laki yang menangis di sudut kamar karena ketidakberdayaan oleh ganasnya kanker payudara.
***
Sinar matahari pagi telah berhasil bergabung dengan cahaya lampu kamarku saat aku terbangun. Aku lupa salat subuh lagi, jerit hati kecilku. Kusambar handuk kesayanganku dan sedikit berlari ke kamar mandi. Kurasakan perih yang teramat sakit di dadaku. Benjolan itu semakin besar dan memerah bahkan kadang mengeluarkan nanah di sekitar puting susu dan kulitnya semakin mengerut seperti kulit jeruk.
Saat melangkah keluar dari kamar mandi, rasa perih itu semakin menyiksa. Kepalaku mulai pusing dan entah apa yang terjadi di detik berikutnya. Semua telah gelap.
Aku baru sadarkan diri saat warna putih menyelimuti sekelilingku. Antara sadar dengan nafas yang tertahan, samar ku dengar ayah berseteru dengan perawat tentang urusan administrasi. Perawat bersikeras bahwa bila urusan administrasi belum selesai maka tak dapat dilanjutkan keperawatan lebih lanjut. Tentu saja papa terus ngotot apalagi melihat kondisiku. Ditambah keterkejutan yang sangat keras menghantam perasaannya. Rasa perih itu kembali mendera dan aku kembali tak mampu merasakan apa-apa lagi.
***
“Bagaimana keadaannya, paman?” Suara itu … menggetarkan hatiku, membelai lembut jiwa yang pernah rapuh. Pelan kubuka mataku “Melisa.” desahku.
“Pembedahan lancar, semua sel kanker sudah diangkat dan jaringan sekitar payudara sudah dibersihkan. Tinggal pemulihan saja. Kau sangat mencintainya? Sepertinya tak perlu kau jawab karena aku sudah tahu jawaban melihat sikap kamu padanya dan kebaikan kamu pada keluarganya.”
“Aku sudah tahu alasan dia meninggalkanku, jadi tak ada kata untuk berhenti mencintainya.”
Segores harapan kembali terukir untuk menjaring mentari pagi.

Rabu, 10 Desember 2008

jomblo.gue banget


JOMBLO,Gue banget
*Ani Dzakiyah
“Indahnya hidup. Oh…” Kurebahkan tubuhku yang letih setelah jogging. Kurasakan otot-ototku mulai mengalami relaksasi. Kuhirup dalam-dalam aroma kamarku yang lembut namun menyegarkan. Inilah indahnya hidup yang kurasakan. Allah benar-benar Penyayang, menciptakan suasana pagi yang syahdu bagi para pe-jogging.Biar kata aku jomblo, tapi keromantisan itu selalu kurasakan di pagi hari bersama rayuan udaranya.
“Jomblo itu menyedihkan. Jomblo itu petaka.ugh…ugh. pokoknya secepatnya aku harus punya pacar.” Aku teringat kata-kata Indi saat diputusin oleh Si Ryan.Ternyata Indi salah besar. Justru jomblo adalah anugrah.

Tak banyak orang yang mampu menikmatinya. Hanya orang-orang yang jernih hatinya. Sueer …
“Mil…Mila…” Sepertinya ada yang memanggil namaku. Segera kuberanjak dari kasur ke pintu kamar yang sengaja tak kukunci.
“Ya kak. Ada apa?”
“Ada telpon buat kamu, dari seorang ikhwan. Ingat jaga lisan dan hati!”ucap kak Rezky sambil berlalu dari hadapanku meninggalkan sebiji kebingungan di hati.
“Assalamualaikum, ini dengan siapa ya?” Kubuka percakapan itu dengan salam . Tapi kok tak ada sahutan. Apa sudah putus ya?
“Hello…”ku ulangi mengajaknya mengobrol. Aku mulai kesal.
“Hai…Masih kenal dengan suaraku? Aku teman lama kamu. Aku senang banget, akhirnya aku bisa mendengar suara kamu yang seksi itu lagi.” Ucapan di seberang sana membuatku tersedak dan rasanya asrama ini mau roboh saja. Siapa sih orang ini? Iseng amat. gerutuku dalam hati.
“Ini siapa sih? Kayaknya suaranya asing banget di telinga gue.”ucapku cukup keras biar Si Dia sadar dari khayalannya.
“Masa lupa? Kita kan pernah melewati masa-masa indah bersama, saling…”
“Maaf sepertinya aku nggak ingat tuh.”ku potong secepat kilat sebelum ucapannya semakin ngelantur.
“ Tommy.” Ha… Mendengar nama itu bagai tsunami melanda akal sehatku dan sebuah bom tiba-tiba meledak di dasar hatiku.
Segera kututup percakapan itu dengan menjatuhkan gagang telepon dengan sadis dan berlari ke kamar. Aku duduk termenung. Perasaanku campur aduk. Aku tak menyangka, kok dia bisa tahu nomor telepon asrama? Kok dia masih ingat aku? Bukankah semuanya sudah berakhir 4 tahun silam. Ya…Rabbku.
Hari ini menjadi hari paling buruk yang pernah kurasakan. Bayangnya kembali hadir menghantui langkahku yang telah mantap meniti masa depan dalam dakwah dan cinta. Azzam diri tuk menjauhkan diri dari kemaksiatan dan nista terasa goyah olehnya. Ah, mengapa ia menjadi iblis penggoda imanku?
Sering aku begitu naïf saat teman-temanku curhat tentang pengalaman cinta mereka. Bahkan Mery pernah berkata”Jangan munafik, deh! Kita itu butuh cinta dan pendamping yang merhatiin kita.”
Tidak salah memang. Semua orang butuh cinta dan pendamping hidup yang baik dan setia. Tapi semua butuh jalannya masing-masing. Ada jalan pintas dengan pacaran, ada juga jalan yang halal dan di Ridhoi Allah yaitu pernikahan. Dan jalan yang kedua itulah yang akan kupilih.
Jomblo, gue banget. Mungkin seperti itulah jargon yang kupasang rapi di kain jilbabku. Aku bangga dengan status itu, karena dengan status itu aku bisa lebih menata dan menjernihkan hati. Asal jangan menjadi jomblo abadi.
Aku kadang kasian melihat teman-teman aku yang stress karena ulah pacarnya, ada juga sampai malas ke kampus hanya karena cemburu buta. Sungguh tragis memang padahal ada cinta yang abadi dan dijamin tak ada air mata dan kesedihan saat memilikinya yaitu cinta hamba pada Tuhannya.
***
“Kita kan jomblo klasik, Ha…ha…”Itulah sebutan buat gank kami, dibalik gema tawa ada segores duka di wajahku yang mampu mengubah ekspresi Adhe.
“Kamu kenapa, Mil?”tanyanya sambil mengamati raut mukaku yang tampak aneh dimata sipitnya. Aku tak sanggup menyembunyikan masalah ini dan meresapinya sendiri, apalagi harus berhadapan dengan tatapan tajam teman-temanku. Aku pun menceritakan semua yang kualami akhir-akhir ini termasuk sms-sms teror Si Tommy.
“Enjoy aja. Orang kayak gitu maunya di cuekin. Kalo dia nelpon nggak usah diangkat, kalo sms nggak usah dibalas nanti kapok juga.” Ani mulai angkat bicara, seperti biasa dengan gaya super cueknya. Seakan tidak ada masalah dimatanya dan semua hal bisa dihadapin dengan santai. Heran, pintar-pintar kok bawaannya super cuek abis. Kalau dipikir-pikir saran Ani boleh juga tuh bathinku.
Kucoba mengikuti saran Ani. Eh malah aku dapat balasan”Udah sombong ya. Mentang–mentang kuliah di Unhas lupa deh ma temen sendiri. Aku kan hanya mencoba untuk minta maaf dan membuka mata hati kamu kalau aku masih yang terbaik buat kamu”
GUBRAK!!!
“Ni orang kirim sms pake dengkul kali ye. Nyadar pak!malah aku menjadi orang paling sial karena udah kenal sama kamu.”pekikku yang tertahan antara kenangan dan pilu.
Tommy adalah mantan aku dulu waktu SMA, bisa dikatakan dia pacar pertama tapi bukan cinta pertama. Lho kok bisa? Dulukan sekedar gaul daripada dicap nggak laku. Itulah kesalahan besar yang pernah kutempuh dan sampai hari ini kusesali. Kok bisa-bisanya aku jalan sama cowok kayak dia.?Sungguh memilukan.
***
Aku telah melupakan masalah yang pernah menghinggapiku satu bulan yang lalu. Ternyata aku bisa juga terbebas dari sms-sms nggak jelas dan miscall yang tak kenal waktu. Kini aku bisa menikmati akhir pekanku di Mall tanpa harus berkutik dengan sms-sms Si Tommy.
Hari Minggu adalah hari buat refresing setelah lima hari berperang dengan tugas-tugas kuliah. Bagiku moment ini tak boleh disia-siakan, makanya hari ini kuputuskan untuk jalan-jalan ke Mall sekedar cuci mata kalau sempat ya…nonton di bioskop.
Saat aku dan Ella lagi asyik milih kaset tiba-tiba ada seseorang yang menyapaku. Sepertinya aku pernah mendengar suara itu. “Hai …dia tadi menyapaku dengan nama kecilku.”bathinku. Hanya ada satu orang yang biasa memanggilku seperti itu. Segera aku mencari sumber suara itu. Oh…tsunami kembali melanda hatiku, memporak-porandakan hari Mingguku.
“Tommy…”
*Mahasiswi Epid FKM 2006
Anggota FLP Ranting UH