Senin, 05 Januari 2009

cerpen


SPEKTRUM CINTA DARI NEGERI DONGENG
Olif sadar kalau spektrum itu menyengat hatinya cukup kuat. Bahkan terlalu kuat sehingga ia tak kuasa untuk menghindar. Hatinya berwarna kala spektrum itu menyapa. Menyalakan pelita di dasar hati dan menyinari hasrat yang hampir beku. Spektrum itu menguasai tiap puing mimpinya. Menerbangkan angan hingga ke negeri dongeng. Cinta, spektrum yang kau pancarkan telah menawarkan senyum di pinggir hati.
“ Permisi”
“ Oh…” Olif kaget. Tanpa disadarinya seorang laki-laki telah berdiri di hadapannya. Laki-laki yang telah membawa spektrum di hatinya. Apakah ini di negeri dongeng? Tanya hati kecilnya dalam girang.

Seperti mimpinya semalam, pangeran datang menjemput di pintu istana kemudian mereka bercengkerama di taman utama kerajaan. Di temani bunga mawar dan anggrek yang bermekaran, rumput hijau menawan, suara gemericik air bersama alunan lembut suara para dayang berbaju sutera ungu yang lincah memetik anggur. Pangeranku gumam Olif. Tapi semua akhirnya terdampar pada lembah yang gelap. Saat tahu kalau dia hanya ingin masuk kelas. Ternyata Olif telah cukup lama menghalanginya masuk kelas. Dengan senyum malu Arin beranjak dari pintu ke tempat duduknya. “ Altar” Suara itu sangat jelas dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Altar hanya terpaku di tempatnya memandang dengan sorot bingung pada sosok Olif yang pergi begitu saja tanpa jawaban. Namun, senyum itu cukup menggores belahan jiwanya. Dasar cewek aneh. Tapi kalau dipikir-pikir dia antik, unik dan luar biasa pikir Altar sambil tersenyum dalam makna yang tersembunyi.
***
“Yes. Uh… metode penelitianku dapat A” Olif bersorak girang memamerkan senyum untuk semua temannya. Seperti mimpi karena menurut rumor yang beredar susah lulus mata kuliah ini.
“Selamat ya.” Denting waktu seakan berhenti sampai disini. Angin pun enggan bertiup. Altar ngucapin selamat ke aku hatinya melayang melewati horizon.
“Mata kuliah ini memang sulit tapi kita bisa lulus dengan nilai A lagi. Kayak mimpi ya? Mungkin karena kita sama-sama pintar, he…he…” Altar tersenyum lebar. Sedangkan Olif hanya membisu dengan pikiran entah dimana. Itulah kalimat terpanjang yang pernah Altar ucapkan pada Olif. Karena melihat Olif diam saja, Altar melanjutkan “Kita boleh sama-sama dapat A tapi sepertinya aku perlu meralat ucapanku tadi. Kita nggak sama pintar. Kamu cuma lagi beruntung aja kalau tidak karena kebetulan mungkin akan bernasib sama dengan yang lain.” Altar memojokkan Olif.
“Kepedean banget sih, kamu tuh yang cuma nebeng nasib doang di ujung pulpen bapak. Beliaukan PA kamu. Lagian aku bisa kok buktiin kalau aku lebih bisa dari kamu.” Olif mulai panas. Dia memang tidak tahan dipandang sebelah mata dan cenderung suka nekat.
“Ok. Kita buktiin, siapa yang duluan S1 berarti dia lebih pintar. Kamu boleh deh nyuruh aku apapun kalau kamu menang.” tantang Altar dengan sorot mata penuh arti. Entah apa yang dipikirkan Altar sehingga dia berani menaruh taruhan seperti itu.
“Siapa takut. Kalau kamu menang, kamu… boleh minta apapun sama aku.” ucap Olif tak mau kalah. Altar tersenyum mantap sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Tapi apa yang kamu minta nanti tidak boleh melanggar HAM dan tidak boleh mencemarkan nama baik.” balas Olif tanpa menyambut uluran tangan Altar. Dia pun berlalu dengan sejuta keheranan, kok aku mau taruhan gituan ya. Altar kan bukan rivalku dan spektrum itu? sesal bathinnya.
***
Perpustakaan, warnet, dan rumah senior menjadi tempat nongkrong Olif sekarang. Bulan ini dia bertekad harus memasukkan judul ke pembimbingnya kemudian menyusun proposal penelitian. Olif yakin bisa mendahului Altar.
Siang malam Olif membaca untuk mendapatkan judul yang menggebrak. Entah apa yang dilakukan Altar sekarang? Bayangan itu kembali mencul mengganggu pikirannya. Mungkin Altar harus menjadi rivalku sekarang demi nama baik. Tapi bagi Olif, Altar tetaplah sosok yang menghantui mozaik harinya.
“Judul aku ditolak. Katanya terlalu biasa dan sederhana. Hm… sebaiknya aku melakukan observasi aja dulu, mungkin di luar sana ada fenomena yang menarik.” desah Olif diantara ceritanya kepada Mai. Sebenarnya Mai heran dengan sikap Olif. Kenapa Olif terlalu berambisi selesai tahun ini? Bukannya itu terlalu cepat? Tiga tahun empat bulan adalah waktu yang terlalu singkat untuk merampungkan kuliah.
Tak ada kabar tentang Altar. Olif menjadi gelisah sendiri dan harus berbaur dengan berbagai pertanyaan. Apakah Altar terlalu sibuk mengurus skripsinya sampai lupa ke kampus? Hati Olif menjadi ciut. Ada ketakutan yang mulai menyusup ke relung hatinya. Bagaimana kalau dia kalah? Apa yang akan diminta Altar padanya? Ah, sungguh kebodohan yang tak terperikan.
Hari-hari Olif menjadi serba sibuk. Dia tidak mau kehilangan waktunya hanya untuk mengurus rindu yang nakal di bilik jiwanya. Olif rindu sosok Altar yang selalu mengejutkannya. Altar terlalu gagah di matanya. Cool tapi humoris, alim tapi gaul, agak nakal tapi berprestasi. Andai Altar tahu?
***
Enam bulan telah berlalu, tetap tak ada kabar dari Altar. Setitik harapan untuk menang menggantung di pelupuk mata Olif yang baru selesai merampungkan hasil penelitiannya. Sepertinya bulan Maret yang akan mendatangkan kemenangan itu. Tahun ini tak mengikhlaskan detiknya untuk kemenangan Olif.
“Hai… Wah udah lama banget ya kita nggak ketemu. Kamu masih ingatkan taruhan kita?” Altar tiba-tiba muncul mengagetkan Olif yang sedang serius membaca. Akhirnya Olif bisa juga melihat sosok itu lagi. Dan spektrum yang terus dia kubur mengangkasa di langit hatinya. Tapi itu hanya sesaat, karena setitik harapannya tinggal jejak kala melihat pakaian Altar. Hitam-putih.
“Gimana jadi wisuda bulan ini?” Olif telah kalah dalam pertarungan yang dibentuknya sendiri. Olif harus mengakui kalau Altar memang pintar .
“Kamu mau meminta apa? Tapi ingat syaratnya.” ucap Olif kemudian dengan wajah juteknya dan berusaha memasang sikap berwibawa. Dia tidak mau kelihatan terlalu bodoh di mata Altar. Senyum penuh kemenangan Altar berkembang. Dia sebenarnya sudah tahu semua tentang Olif termasuk saat judulnya ditolak dan penelitiannya yang gagal.
“Aku hanya minta… kamu memakai cincin ini sebagai pengikat hati kita. Kamu bersediakan jadi calon permaisuriku” Altar menyerahkan kotak cincin berwarna ungu kepada Olif. Akhirnya kalimat itu berhasil juga dia keluarkan dari mulutnya. Tidak sia-sia dia mengeja kalimat itu di setiap spasi skripsinya.Olif kehilangan ekspresi wibawa yang sempat dia pasang beberapa menit lalu. Apakah ini di negeri dongeng? Pertanyaan itu kembali muncul bersama spektrum yang telah menguasai seluruh jiwa raganya.

Tidak ada komentar: