HARUSKAH MAHASISWA BERPOLITIK?
Oleh: Ani Dzakiyah
Pesta demokrasi 2009 sudah depan mata. Kedepannya diprediksi berbagai elemen masyarakat akan terjun dan ikut dalam pertarungan politik tersebut, termasuk mahasiswa. Keterlibatan mahasiswa dan kampus dalam perhelatan akbar politik di negeri ini menciptakan paradigma berbeda di beberapa kampus.
Sebagian besar kampus meyakini bahwa kampus harus steril dari urusan-urusan praktis partai politik. Sebagian lagi ada kecenderungan kampus mulai melakukan upaya pendekatan untuk mengakomodir kepentingan partai politik-sebagai media efektif memberikan kesempatan kepada partai politik untuk menemukan positioning strategisnya di mata konsituen.
Paradigma yang mengatakan bahwa kampus harus steril dari aktivitas partai politik harus ditelaah kembali secara tepat. Hal ini dimaksudkan agar golongan intelektual memahami bahwa realitas politik dan realitas sosial yang berkembang di tengah masyarakat haruslah tetap menjadi perhatian masyarakat kampus.
Mahasiswa memang menjadi komunitas yang unik dan telah tercatat di dalam sejarah perubahan selalu menjadi garda terdepan dan motor penggerak. Dalam pergerakannya mahasiswa tetap harus memperhatikan 4 peran yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya yaitu peran moral, sosial, akademik, dan politik.
Peran politik yang dipegang mahasiswa memperlihatkan bagaimana mahasiswa sebagai agent of change membedah berbagai problem politik dalam bingkai akademis. Sejatinya pemikiran politik mahasiswa merupakan sebuah gerakan politik yang secara moral mewadahi semua kepentingan yang perlu diakomodir secara akademis. Selain itu dengan adanya kegiatan parpol seperti kampanye ataupun diskusi publik pada mahasiswa bisa menjadi momen paling baik dalam proses pembelajaran politik dan demokrasi bagi mahasiswa itu sendiri. Pembelajaran ini penting karena fakta historis dan kultural dinamika dan perubahan suatu bangsa di seluruh dunia termasuk Indonesia, sangat kental diwarnai oleh tingkat sejauh mana masyarakat kampus berperan pada dinamika dan perubahan politik yang dialami suatu bangsa.
Kita yang masih memahami bahwa kampus harus steril masih menganggap aktivitas politik di kampus identik dengan kampanye massa, banyaknya pesan atribusi Parpol yang ada di kampus. Kalau memang demikian kontesnya maka sterilisasi dalam konteks itu harus atau tetap dijaga secara konsisten sebab yang demikian ini pasti akan mendistorsi prinsip-prinsip Tri Dharma Perguruan Tinggi. Apabila yang kita pahami tentang masuknya Parpol masih dengan pemahaman sempit seperti itu maka terlalu naif dan amat dangkal persepsi kita dalam menyediakan tempat bagi Parpol untuk melakukan proses dialektika politik.
Perbedaan persepsi tentang keterlibatan kampus atau perlunya kampus steril atau tidak dari segala bentuk aktivitas Parpol bukan satu-satunya perbedaan yang ada dalam menyikapi perhelatan politik negeri ini tetapi juga perbedaan mengenai posisi mahasiswa dalam pemilu. Sebagian menuntut mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan harus bersikap netral dan tidak menunjukkan keberpihakan kepada salah satu partai politik.
Posisi mahasiswa memang sebaiknya netral dari kepentingan politik mengingat peran politk yang dipikul mahasiswa sangat berat. Peran politik adalah peran yang paling berbahaya karena mahasiswa harus berfungsi sebagai presseur group ( group penekan ) bagi pemerintah yang zalim tanpa memandang partai yang mengusung dibalik pemerintahan itu.
Sekarang zaman kebebasan berpolitik telah terbuka lebar bagi siapapun termasuk mahasiswa tak seperti zaman orde baru lagi. Pada zaman orba pemerintah yang zalim merancang sedemikian rupa agar mahasiswa tidak mengambil peran politiknya. Pada masa orde baru daya kritis dipasung, siapa yang berbeda pemikiran dengan pemerintah langsung dicap sebagai makar dan kejahatan terhadap bangsa.
Posisi mahasiswa yang dituntut untuk netral bukan berarti harus membisukannya dari keramaian kegiatan politik (pemilu) 2009. Lalu apa yang harus kita lakukan pada pemilu 2009 dalam melaksanakan peran kita?
Sebagai mahasiswa yang tak lain adalah calon pemimpin negeri ini tak boleh tinggal mematung memerhatikan momentum pemilu 2009. Kita harus melakukan sebuah gerakan yang tak lepas dari nafas pergerakan mahasiswa itu sendiri yaitu idealis karena apa yang disuarakan mahasiswa adalah nilai kebenaran universal berupa nilai moral yang diakui bersama kebaikannya oleh seluruh masyarakat, seperti anti tirani, demokratisasi, berantas KKN dll.
Secara internal mahasiswa atau gerakan kemahasiswaan dalam jelang pemilu harus menyamakan persepsi tentang kawajiban kita menyelamatkan nasib bangsa dengan jalan mendorong lahirnya kepemimpinan yang bersih dan kuat. Hal ini bukanlah sesuatu yang mustahil karena mahasiswa pernah membuktikannya pada gerakan Reformasi 98.
Selain itu mahasiswa juga harus berperan diluar medan pertarungan politik yaitu memberikan informasi ataupun pembelajaran politik kepada masyarakat luas. Tidak semua masyarakat negeri ini paham tentang pergerakan politik. Bahkan pemilu sebenarnya tak memiliki warna bagi mereka. Baginya pemilu hanyalah formalitas yang ,mengharuskan dirinya untuk memilih orang atau partai yang tak dikenalnya dengan baik. Sedangkan untuk pemilu 2009 yang teknisnya berbeda dengan pemilu sebelumnya masih banyak masyarakat yang bingung dan belum mengetahuinya. Jangan sampai mereka menjadi sampah pesta politik. Olehnya itu mahasiswa jangan membiarkan hal ini terjadi dan ingat ada peran moral dan sosial yang harus dijalankan.
Walau mahasiswa tak perlu terjun ke dalam gelanggang pertarungan politik praktis, tapi peran harus tetap terlaksana. Ada satu hal yang penting dilakukan mahasiswa dalam pemilu nanti yaitu mengontrol serta mengawasi agar proses yang ada dapat memberikan output berkualitas dengan lahirnya kepemimpin yang kuat.
Pada gelanggang pertarungan politik 2009 banyak aktor-aktor yang akan ikut didalam dinamika tersebut, baik sebagai peserta (partai, caleg, capres dan cawapres) maupun panitia (KPU dan Panwas). Kecurangan-kecurangan tak ada yang dapat memungkiri bisa saja terjadi karena setiap diri menginginkan sebuah kemenangan. Bahkan banyak yang rela melakukan dan berkoraban apa saja untuk meraih visinya. Mahasiswa harus mengawasi dan mengontrol agar geliat politik ini dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan dan mencapai tujuan demokrasi yang diimpikan.
Selama ini mungkin terlalu banyak pihak yang telah muak dengan tingkah maupun pergerakan elit politik yang munafik apalagi demokrasi dan Pancasila mulai dinodai. Mungkin saja diantara pihak itu, mahasiswa termasuk dalam golongan yang bosan dan pasif dalam menyikapi kondisi bangsa ini. Menganggap gerakan politik hanyalah cara merebut kekuasaan. Mungkinkah ini terjadi karena kita belum mencapai kedewasaan berpolitik? Tapi sadar atau tidak masih banyak politikus kita yang memaknai politik sebagai sebuah cara untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat. Ataukah sikap acuh tak acuh dalam peran dan pemikiran kita pada gerakan politik lahir karena masih adanya pertanyaan yang belum terpecahkan. Haruskah mahasiswa berpolitik?
Mahasiswa adalah kaum terpelajar dinamis yang penuh dengan kreativitas. Mahasiswa adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari rakyat. Oleh karena itu, mahasiswa harus sadar akan arti tugas dan peranan intelektual. Mau atau tidak, mahasiswa harus mengambil bagian dalam pesta demokrasi ini. Pola pergerakan politik negeri ini tak boleh lepas dari pandangan mata.
Senin, 02 Maret 2009
cerpen

MALAIKAT 14 HARI
Oleh: Ani Dzakiyah
“Aku ada dimana?” Hanya itu yang mampu terucap saat kusadari tempat itu terlalu asing buatku. Dindingnya sangat kokoh, langit-langit kamar yang putih pualam, interior Makassar kuno dengan lantai marmer mengkilap. Sungguh indah. Dan kasur ini sangat empuk, badanku yang kurus tenggelam sebagian kedalamnya. Mataku menjelajahi tiap sudut kamar luas itu. Ada satu yang sangat mempesona. Jendela… ya jendela itu luas, menawarkan keindahan danau dengan teratai cantik dan lili di sisinya. Dari semua keindahan yang tersaji ada hal yang jauh lebih menarik perhatianku. Siapa laki-laki tua yang sedari tadi memandang semua tingkahku? Heran.
“Aku ada dimana, Pak?” kuulangi kata itu sekedar berharap sebuah jawaban.
“Kamu bersama bapak, Nak. Nikmati semua yang ada dan jangan pernah bertanya lagi?” Bapak itu mengusap kepalaku lembut penuh kasih sayang. Kedamaian menyusup dalam relung hatiku bersama bahagia yang tiba-tiba muncul bersanding dengan jiwaku. Siapa bapak itu? Tak henti aku bertanya pada angin dan kicau burung di pucuk pohon dekat danau.
Nikmati semua yang ada, kembali kalimat bapak itu terngiang. Ah… lebih baik aku nikmati kamar megah ini. Indah sekali pemandangan di luar sana. Aku berlari keluar kamar. Dan wow… sebuah ruangan besar dengan nuansa warna kayu dan pernak-pernik ruangan yang antik namun terkesan elegan.
“Kamu mau ikut bapak?” Suara Sang Bapak mengejutkanku dari decap kagum pada keindahan itu. Aku mau bertanya, kemana? Tapi urung karena bapak itu telah berpesan jangan pernah bertanya lagi.
Kuikuti Sang Bapak yang telah rapi dengan jubah putih dan sorban yang dikalungkannya di leher. Bapak yang teduh, baik dan lembut. Berjuta tanya masih menggantung di pikiranku saat kami sampai di sebuah dusun.
“Ini Cambaya, salah satu dusun di Kabupaten Maros. Coba kamu lihat! Jalanannya rusak, sumber air bersih tidak ada, sekolah tak memadai, sampah, gizi, kesehatan semua bermasalah. Padahal alamnya indah, penduduknya ramah bahkan produktif bila empang-empang itu mendapat perhatian. Kita akan bantu mereka. Selama 14 hari, kamu akan menjadi malaikat kecil.” Penjelasan bapak itu semakin melukis tanya di benakku. Ah menjadi malaikat kecil, mungkinkah? gumamku.
Setelah membagikan tiga kardus peralatan tulis-menulis dan beberapa buku bacaan kepada siswa-siswi Cambaya, bapak itu mengajakku ke sebuah kota metropolitan. Aku tak tahu nama kota itu. Aku pun tak tahu bagaimana caranya dari sebuah dusun kecil langsung berada di kota besar ini. Semua bagai kilat, terlalu cepat untuk dirasakan. Walau aku bingung bahkan pusing aku tetap tak berani bertanya.
Di kota besar itu kulihat kemacetan yang sesak. Copet beroperasi mulus, bahkan kutemui berbagai jenis manusia dengan wajah munafiknya melenggang cantik tanpa dosa di gedung-gedung megah. Ah, anak jalanan berseliweran, pengemis menjamur dan pengamen … itu pekerjaanku. Pengamen bernyanyi dengan sumbang hingga hilang bersama deru mobil mewah orang-orang yang enggan menghargai suara sumbang itu. Perih melihatnya walau hampir setiap hari aku sakit merasakannya.
“Kita akan ke kolong jembatan membagikan makanan dan uang agar mereka bisa makan. Sekaligus membantu mereka membangun rumah-rumah mereka yang telah dugusur.” Kembali bapak itu membawaku pergi ke kolong jembatan. Itukan teman-temanku. Indra, Susan, Viki dan Dede. Tapi kok mereka tidak mengenaliku? Aneh.
“Orang-orang seperti mereka harus dibantu bukan dibantai. Aku lihat dikotamu tak ada yang peduli dengan mereka. Bahkan penderitaan dan rasa lapar mereka tak ada yang mau tahu. Padahal banyak diantara mereka saat mencalonkan diri sebagai caleg menawarkan janji kesejahteraan bagi siapa saja. Lihat baliho besar itu! Janjinya sangat manis, sekolah gratis. Kita tunggu saja, karena kita memang sedang menunggu. Mungkinkah sekolah akan gratis atau semua hanya tinggal janji belaka.” Aku miris mendengar ucapan Si Bapak. Seperti itukah orang-orang disekililingku. Sebagai pengamen aku mengira mereka terlalu sibuk saja sehingga tidak sempat memberi sereceh uang.
“Masih banyak yang ingin bapak perlihatkan. Dan bapak senang kamu mau menemaniku membagikan bantuan itu walau tak seberapa. Dan Cambaya saya rasa biar mereka yang menyelesaikannya.” Mereka? tanyaku membathin. Seperti mendengar pertanyaan hatiku bapak itu pun berucap “Mereka itu para mahasiswa Kesehatan Masyarakat yang seminggu lagi akan datang ke Cambaya melaksanakan Pengalaman Belajar Lapangan (PBL). Kamu takkan mengerti. Sudah waktunya kamu pulang. Bapak yakin walaupun kamu cuma seorang pengamen tapi jiwamu seorang ksatria.” Bapak itu pun lalu pergi dan menghilang.
“Pak… bapak…Tunggu Udin mau bertanyaaa…Ba…Pak…”
Oh, aku terhenyak. Mimpi itu lagi, ucapku lirih. Sudah hampir dua minggu ini aku bermimpi bertemu seorang Bapak Tua di rumah yang selalu berbeda. Hanya satu yang sama, rumah itu selalu megah dengan interior Nusantara. Entah sudah berapa wilayah di tanah air yang kukunjungi tapi semua hampir sama, menyimpang komunitas bawah yang selalu tertindas dan semua wilayah itu pun berjaya dalam kemasan namun terpuruk isinya.
“Udiiin… cepat lari petugas-petugas itu datang lagi!!!” Teriakan Dede segera mengembalikanku ke alam nyata. Aku harus segera berlari, kalau tidak aku pasti digrebek petugas-petugas tak kenal kemanusiaan itu. Ah… tidur di emperan toko saja dilarang apalagi kalau mendirikan kios kaki lima, pantas aja digusur, geramku diantara derap kaki yang semakin kupercepat.
***
Semalam aku berhasil kabur dari kesulitan yang mengintai. Lega juga rasanya dan akhirnya aku dapat kembali memetik gitar tuaku demi sesuap nasi untuk hari ini. Matahari dengan teriknya ganas membakar kulitku. Semoga hari ini ada yang peduli dengan suara sumbangku. Kutenteng gitar tuaku keliling pasar sentral berharap keikhlasan pengunjung. Sepertinya tenda bubur ayam di ujung lorong itu menguntungkan buatku, harapku dalam hati. Kumulai bernyanyi diantara kerumunan orang yang sedang asyik mengobrol sambil menikmati sarapannya. Kulantunkan lagu Laskar Pelangi sebagai penyemangat menyambut hari ini. Sepertinya mereka menikmati laguku, pikirku diantara suara yang kupaksa merdu. Ada pula yang cuek dan tak peduli mungkin bubur ayamnya terlalu enak untuk dicampur dengan suara sumbangku. Selepas bernyanyi dengan sopan kuedarkan topiku meminta imbalan. Ah, sepertinya hari ini perutku harus rela dengan sepotong roti. Dari delapan orang pengunjung hanya dua orang yang memberiku recehan. Semuanya Rp. 500.
Betul kata bapak dalam mimpiku kalau orang di kotaku sungguh tak peduli dengan nasib kami. Hanya kepasrahan menjadi modal kami. Kebisingan dan deru mobil orang berduit adalah hiburan kami sehari-hari. Dan lampu merah adalah kawan kami. Kembali kucoba memetik gitar tuaku di dekat sebuah mobil metalik. Aku tak menyangka kalau dia akan mengusirku.
“Sudah sana ganggu orang saja! Udah liat macet, panas lagi masih aja nyanyi. Tambah pening tau nggak.” gertak orang berdasi di jok mobil mewah itu.
Bukan Udin Sang Pengamen namanya kalau menyerah karena digertak. Kutinggalkan mobil itu dan beralih ke mobil yang tampilannya biasa saja tapi cukup bagus. Mewahnya mobil kadang tak seindah hati pemiliknya. Ternyata pemilik mobil yang tak semewah mobil metalik tadi memiliki hati emas. Dia memberiku selembar uang dua puluhan. Akhirnya aku bisa makan enak hari ini.
Dengan wajah berseri aku beranjak berteduh di bawah sebuah baliho besar. Seorang caleg tersenyum indah di baliho itu. Mungkinkah beliau iri dengan kebaikan pemilik mobil biasa tadi? Semoga agar dia juga dapat dermawan dan peduli penderitaan kami, gumamku membathin.
“Woi… Dilarang berdiri di situ. Ayo sana pergi!!!” teriak seorang polisi lalu lintas. Aku kaget mendengar larangan itu. Segitunya, memangnya ada larangan seperti itu. Sekilas kulihat seorang bapak di seberang jalan tersenyum dan menganggukkan kepalanya padaku. Bapak itu?
Minggu, 01 Maret 2009
cerpen budaya

RETAKNYA MIMPI SANG BISSU
Oleh: Ani Dzakiyah
“Ayah, apa kita sudah di Makassar?” pertanyaan Wahyu membuyarkan bayangan masa kecil yang sempat menari di pundak anganku. Patmi tersenyum memandang buah hati kami yang sudah berumur 11 tahun itu lalu menatapku lembut.
“Ya sayang, kita sudah sampai di tanah nenek moyang ayah. Nanti sebelum melanjutkan perjalanan ke Wajo, kampung kelahiran ayah, kita istirahat sebentar di rumah teman lama ayah.” Kupandangi wajah istri yang selalu cantik dimataku. Sebentar lagi kami mendarat di bandara Sultan Hasanuddin. Kurasakan gemuruh dalam dadaku. Perasaan apa ini? Mungkin aku sudah terlalu lama lari dari ini semua.
14 tahun kutinggalkan Sulawesi tak ada yang jauh berbeda, hanya bandara ini yang semakin megah saja. Sepertinya Makassar semakin makmur pikirku. Dari kejauhan Mahmud melambaikan tangan pada kami. Dia tampak lebih tua dan kurus dariku.
“Selamat datang di Bumi Angin Mammiri Rahman.” Dia merangkulku erat seakan ingin melampiaskan semua kerinduannya. Dia pun melirik pada anak dan istriku. Mungkin dia heran dan bertanya-tanya. Siapa gerangan mereka? Kuperkenalkan Patmi dan Wahyu pada Mahmud.
“Kamu benar-benar sudah berubah kawan. Hidupmu sudah sempurna, Man. Apalagi yang kau cari disini?” Pertanyaan mengalir lembut ke telingaku bersama deru knalpot pete-pete yang kami tumpangi.
“Aku rindu suasana kampung dan kerabat. Lagipula Patmi dan Wahyu juga belum pernah kesini, mereka akan kuperkenalkan pada keluarga.” jawabku. Sudah terlalu lama aku tak menghubungi ibu, termasuk tentang kepulangan ini. Mungkin akulah anak paling berdosa, tapi ini kulakukan demi pencarian pada jati diri. Kuedarkan pandangan menyisir tubuh tol Reformasi yang tampak gagah rupanya. Makassar sudah jaya.
***
Matahari mulai meninggalkan titik sentralnya, pertanda sore kan menjelang. Aku harus segera ke terminal karena kalau kemalaman dipastikan mobil Makassar-Sengkang sudah tidak ada. Istirahat di rumah Mahmud cukup menyegarkan badan dengan suguhan nuansa rumah segar dengan bunga-bunga indah dipadu perabotan antik. Rupanya Mahmud masih suka mengoleksi barang-barang antik. Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih, kami segera ke terminal. Mahmud tak dapat mengantar kami karena ada urusan penting yang tidak dapat ditinggalkannya. Tepat pukul empat sore kami tinggalkan terminal.
Sepanjang perjalanan Wahyu dan Patmi hanya membisu sedangkan aku sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkanku sendiri. Mobil yang kami tumpangi merupakan mobil terakhir di terminal tadi. Kebetulan sopirnya tetanggaku di kampong, sehingga kami dapat duduk di kursi depan.
Pemandangan yang tersaji di luar jendela mobil sudah jauh berbeda saat kutinggalkan dulu. Tak adalagi hutan dan tanah lapang yang ada hanyalah pemukiman luas dan area pertanian yang mulai terdesak.
“Sudah sampai Man.” Aku terkejut, ternyata aku tertidur. Segera kubangunkan Patmi dan Wahyu yang masih pulas. Mereka tampak sangat kelelahan.
“Terima kasih Ali. Sepertinya ada pesta di rumah Datu?” tanyaku saat melihat keramaian di rumah Datu Ake yang berseberangan dengan rumah ibuku.
“Iya. Pesta lama…sepertinya baru mulai. Oh ya, ini baru pukul sepuluh. Ayo saya juga mau kesana” ajak Ali. Pesta lama?
Awalnya aku menolak dan bergegas menuju rumah ibuku tapi ternyata terkunci. Yah, ibu tidak mengetahui kedatangan kami. Pasti ibuku ada di rumah Datu. Barang bawaan kami simpan di depan pintu dan akhirnya memilih untuk kerumah Datu juga sekalian bertemu teman lama dan kerabat.
“Ramai sekali Yah?” Tanya Wahyu saat kami memasuki halaman rumah Datu. Tak ada yang menyadari kedatanganku, semuanya serius memandang ke arah seorang penari. Oh… hatiku ciut. Tanganku tiba-tiba dingin. Desiran darahku semakin kencang. Acara mabbissu, acara ritual yang diperankan oleh para bissu.
Orang kebanyakan mengatakan kalau bissu itu “Urane majjiwa makkunrai, tengurane toi temmakunraitoi” (Laki-laki yang berjiwa perempuan, tapi bukan laki-laki juga bukan perempuan). Para bissu berperan sebagai penasihat raja. Pada masa pra- Islam mereka bisa dikatakan sebagai pendeta agama Bugis kuno. Sebagai pelaksana dalam ritual kerajaan, bissulah yang menentukan hari baik untuk memulai sesuatu, seperti turun ke sawah atau membangun rumah.
“Kang lihat itu!” teriakan Patmi menghentikan perasaan aneh yang merayapi tubuh. Kuarahkan pandanganku pada seorang bissu yang ditunjuk Patmi. Tampak seorang bissu yang usianya lebih tua dari bissu lainnya. Itulah Puang Matoa, pimpinan para bissu. Dia sedang meletakkan keris ke lantai rumah, dengan ujung keris yang menghunus ke atas. Lalu menjatuhkan dirinya ke ujung keris itu. Alas kayu yang dijadikan tumpuan kerisnya berderak patah. Gerakan ini ia lakukan berulang-ulang. Bahkan beberapa kali ia menjatuhkan dirinya dengan sangat keras.
Keramaian bertambah ketika dengan keris terhunus, Puang Matoa menggorok lehernya sendiri. Ia lalu menyandarkan ujung keris tersebut ke tiang rumah, dan menekan-nekankan keris tersebut ke lehernya. Bunyi gendang semakin kuat. Puang Matoa melenguh, ia kemudian menancapkan keris panjangnya ke bagian perut. Ia menghentakkannya ke lantai, dan seketika bambu yang menjadi alas kersinya patah. Ia semakin liar. Kemudian ia kembali menghujamkan keris ke perutnya namun tak ada setetes darah pun yang tampak. Kegiatan itulah yang biasa disebut upacara maggiri. Bunyi gendang terhenti. Kami tersenyum puas dan bertepuk tangan.
“Pat, Wahyu mana?” Tanya ku pada Patmi saat menyadari kalau Wahyu tak bersama kami. Patmi juga tampak bingung seakan ingin berkata kalau Wahyu tadi disampingnya. Kuedarkan pandanganku ke setiap penjuru. Tidak. Anakku ternyata sedang berbicara dengan seorang bissu muda. Setengah berlari aku menghampirinya.
“Kakak hebat. Kulitnya tidak teriris keris. Wah ... aku ingin seperti itu.” Si bissu hanya tersenyum mendengar celoteh Wahyu. Tak boleh ada percakapan lagi.
“Wahyu, ayo ke rumah nenek. Ibu bingung mencarimu!” dengan sedikit hardikan Wahyu akhirnya menurut. Beberapa orang yang kulewati menyapaku bahkan ada yang merangkulku. Ternyata mereka merindukanku juga.
“Rahman sudah berubah ya?”
“Itu anaknya? Seperti mustahil kalo mengingat dia muda dulu”
Selentingan komentar dari mereka hanya kuanggap angin lalu. Aku ingin segera bertemu ibu. Kupercepat langkahku menuju Patmi yang berdiri mematung. Tampak seorang ibu yang hampir renta menegurnya. Itu ibu pekik batinku.
Pertemuan yang cukup mengharukan. Setelah berpamitan dengan Puang Datu Ake dan beberapa tetangga, kami pulang ke rumah yang hanya beberapa langkah dari rumah Puang Datu.
Malam ini menjadi malam yang sangat indah sepanjang hidupku. Bintang-bintang menari diiringi alunan merdu suara bulan. Pentas indah mutiara langit itu menyisipkan kebahagiaan yang tiada terperi di sepanjang aliran darah. Tapi siapa yang tahu kalau malam ini akan menjadi awal retaknya mimpiku.
***
“Yah, keren ya kalau jadi bissu. Aku tak perlu lagi takut sama Jack. Mau dipukul, di tendang atau di tikam sekali pun. Kan udah kebal.”
“Hentikan Wahyu, tidak ada yang akan pernah jadi bissu lagi di keluarga kita.” Aku menjadi emosi mendengar angan-angan Wahyu. Mendengar ucapanku yang meninggi, Wahyu segera berlari ke arah neneknya yang sedang memberi makan ayam di halaman samping rumah.
Melihat sikapku yang tak biasanya Patmi tampak bingung. Aku sendiri bingung dengan sikapku. Mungkin harapanku terlalu tinggi pada Wahyu atau kepahitan masa lalu yang tiba-tiba membias di angan.
“Kang, kok ngomongnya kasar gitu sih. Itukan cuma angan-angan anak kecil. Biarin aja.” Patmi mencoba menenangkanku. Udara pagi ini berhembus hampa di wajahku. Ini bukan sekedar angan-angan anak kecil tapi…
“Apa maksud ucapan Akang tadi?”
“Ucapan yang mana?”
“Menjadi bissu lagi?” Tanya Patmi dengan tatapan selidik khasnya. Aku mengerti arah pertanyaan istriku. Aku harus cerita sekarang. Mungkin inilah saat yang tepat untuk membuka tabir rahasia masa laluku.
“Patmi, bagiku kamu dan Wahyu adalah nafas hidupku. Aku bermimpi suatu saat nanti keluarga kita menjadi keluarga kecil yang bahagia. Aku ingin kamu menjadi istri yang bangga akan suamimu. Dan Wahyu menjadi anak yang terpandang tanpa cerca. Aku tak meminta banyak. Aku hanya ingin kita semua dihargai dan diterima dimanapun berada.” Ucapku serius mencoba mencari setitik embun dimata istriku.
“Aku bangga menjadi istrimu. Kamu seorang pekerja keras, rajin salat, dan tak pernah mengeluh. Ada yang ingin kau ceritakan?” tanya istriku sambil menggenggam tanganku. Sebuah keteguhan untuk mengungkap semuanya hadir dalam hatiku.
“Aku tak tahu apakah kamu masih bangga menjadi istriku setelah kuceritakan masa laluku?” istriku hanya mengangguk meyakinkan hatiku.
***
Sejak berusia belasan tahun aku sudah menyadari kelainan yang aku alami, dan mencoba untuk masuk seutuhnya ke wilayah bissu. Maka aku datang berguru kepada bissu-bissu senior ketika itu, salah satunya Puang Matoa Patiro. Aku dinyatakan lulus sebagai bissu pada usia 20 tahun.
Awalnya aku menjadi bissu karena tiga kali aku bermimpi bertemu lelaki tua berbusana serba putih yang menyuruhku ke Rumah Arajang yaitu altar berkumpulnya pembesar bissu. Aku tak berani ke sana. Melihat bissu-bissu itu saja sudah takut, karena cara berpakaiannya seperti perempuan tetapi wajahnya kekar-kekar. Namun, setelah mimpi ketiga baru aku memberanikan diri. Dan jadilah aku selalu bersama mereka.
Setelah 5 tahun menjadi bissu aku mulai merasa jenuh. Seiring pemahaman agama masyarakat yang semakin baik bissu tak lagi dianggap orang suci tapi mulai dicela dan dianggap mempraktikan kemusyrikan. Selama aku menjadi bissu pun kegiatan yang kami lakukan tak terlalu besar lagi seperti pada zaman kerajaan. Keinginanku untuk lebih dihargai dengan kekuranganku justru berubah menjadi pandangan jijik.
Mulai ada keinginan untuk menjadi orang normal. Dan keinginan itu semakin kuat sejak kejadian malam itu. Kejadian yang tak ingin kulihat lagi. Malam itu acara mabbissu digelar dirumah Datu Tenri Liweng. Saat tiba giliran Puang Matoa Patiro dan melakukan upacara maggiri sambil terus mengucapkan bahasa torilangi, bahasa para dewa. Keris pun mulai di tusukkan ke perutnya. Sukses. Namun, ketika ia bangkit dan menghujamkan kembali keris ke perutnya, matanya mendelik.
Aku dan Masse di sudut ruangan mulai memucat. Puang Patiro sempoyongan, dengan langkah tertatih ia berbalik ke dalam ruangan. Bunyi gendang terhenti. Kami tersenyum puas dan bertepuk tangan. Namun, sekembali dari ruangan, Puang Patiro ternyata masih memegang hulu keris yang masih menghujam ke perutnya, berkali-kali jempol tangan yang telah diludahinya diusapkan ke bagian perut. Kami tercekat, perut Puang Patiro berdarah. Terlihat darah segar! Perut Puang Patiro tersobek oleh tusukannya sendiri. Aku digerogoti rasa takut. Puang Patiro tertikam keris, bukannya segala ritual pada dewa sudah dia lakukan? Ah, ada kekuatan di atas kekuatan para dewa.
Malam itu mencekam detik-detik tidurku. Mimpi buruk pun menyusup perlahan menggetarkan hatiku. Terlihat diriku menari dengan gemulai, keris kutusukkan ke seluruh bagian tubuh. Tak ada yang terluka, tapi saat keris kuarahkan ke bagian hatiku tiba-tiba mengalir darah segar bahkan hampir disetiap lubang pada tubuhku mengeluarkan darah segar. Anehnya, Puang Matoa hanya tersenyum melihat kondisiku. Aku marah, kecewa, geram, dan sakit tapi siapa yang harus disalahkan? Mimpi itu terus mengusik malam-malamku.
Aku takut. Semua harus berakhir. Hari-hariku penuh gundah dengan tatapan hina orang-orang disekitarku. Aku seperti bangkai berjalan tanpa arah. Hingga akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan semuanya termasuk ibuku. Bandung menjadi tujuan pencarianku. Terlunta-lunta oleh waktu, musim dan kejamnya sinar matahari. Dan akhirnya aku bertemu denganmu, Patmi
***
Meskipun aku bukan bissu lagi, tak berarti kalau aku harus membenci para bissu. Aku tak mau sorot mataku menciptakan kegelisahan di hati mereka. Wahyu tak pernah lagi penasaran dengan bissu. Aku tak menyangka dia cepat akrab dengan anak-anak kampung sini. Cukuplah dia menjadi laki-laki normal. Tak perlu kekebalan dan ritual pemujaan karena ada yang lebih kuat diatas segalanya dan lebih pantas untuk dipuja. Dialah Sang Pencipta yang di tanganNya tergenggam jiwa-jiwa anak Adam.
“Oh… aduh kenapa pada lari. Ada apa?” Seorang gadis imut yang manis menabrakku.
“Wahyu Om, mimpinya kok aneh-aneh semua.” ucapnya menggemaskan.
“Mimpi aneh. Memangnya mimpi apa, Nak?” Kutatap gadis imut itu. Dia masih kertas putih tanpa warna buram kehidupan.
“Wahyu mimpi ketemu lelaki tua berbusana serba putih. Katanya mau diajarkan ilmu kuat biar tidak teriris keris, seperti Puang Matoa.” Apa??? Kata-kata gadis imut itu selaksa gemuruh yang menulikan pendengaranku. Kami harus segera pulang ke Bandung.
Kuceritakan kekhawatiranku pada istri dan ibu. Mereka menganggap aku terlalu berlebihan. Bahkan ibu hanya menganggap itu hanyalah masalah sehari yang akan berhenti hari ini juga. Wahyu harus tetap menjadi Wahyu. Tak ada bissu, mabbissu, ritual maggiri. Takkan pernah ada. Aku harus segera menegur Wahyu untuk tak percaya hal-hal seperti itu. Kita tak butuh itu semua karena sudah ada iman yang terlalu mahal bila harus digadaikan bahkan untuk menyandingkan keduanya pun tak pantas.
***
“Kang…kang…kang…”
“Ada apa Pat? Kok kamu teriak-teriak begitu.” Segera kuhampiri Patmi yang tampak panik.
“Wahyu…Anak kita kang. Tangannya berdarah. Dia terluka parah.” Patmi semakin panik.
“Kok bisa?” Kucoba untuk berpikir jernih.
“Ayolah kita ke rumah. Nanti dia kehabisan darah. Untung dia tidak menusukkan pisau ke perutnya.” Patmi menarikku pulang. Pisau…darah… Ah… Aku berusaha mengikuti kecepatan langkah Patmi.
“Jangan bilang dia mencoba seperti para bissu.”
“Seperti itulah, Kang.” Aku berhenti dan menatap istriku. Ini sudah tak bisa dibiarkan. Segera kuraih tangan istriku dan berlari ke rumah.
Kudapati Wahyu, anakku bersimpah darah. Segera kugendong tubuh kecilnya ke Puskesmas. Kamu harus bertahan, Nak pintaku dalam doa. Wahyu sudah tak sadarkan diri. Entah apa yang ia rasakan. Kasian anakku.
“Maaf pak, dokter lagi tak ditempat. Sebaiknya langsung ke rumah sakit saja” ucap seorang perawat.Ah lagi-lagi system pelayanan kesehatan.
“Anak saya kekurangan banyak darah, Bu. Tolong diberi pertolongan pertama dulu dong. Kalau anak saya sampai meninggal kalian aku tuntut.” Aku mulai emosi. Sistem seperti apa ini? Dimana rasa kemanusiaanya? Seorang perawat tampak masih ingin berkomentar, saat seorang perawat yang lebih tua langsung menyuruhku membawa Wahyu ruang gawat darurat. Luka Wahyu pun segera dijahit dan mendapat tambahan darah. Akhirnya nyawa anakku masih terselamatkan.
Malam mulai menaungi langit. Kegelapan menjadi teman sunyi yang setia. Wahyu tampak pulas dalam lelapnya. Mata sipitnya perlahan terbuka. Alhamdulillah. Kami yang berada di ruangan itu berucap syukur atas nikmat itu.
“Yah, kenapa aku tak bisa seperti mereka?” Sebuah tanya yang meruntuhkan bangunan senyum yang baru kubentuk.
“Sayang, nggak usah mikiran itu ya. Wahyu itu anak mama yang paling jago.” Patmi berusaha menenangkannya dan tak lepas tangannya membelai rambut anakku.
“Mama bohong. Buktinya Jack lebih jago dari aku. Kok bissu bisa ya?” Kami hanya mampu saling berpandangan. Ibuku pun mulai meneteskan air mata . Ah, hatinya sungguh lembut.
“Mama pernah ngomong kalau ayah adalah ayah terhebat buat Wahyu. Ya kan Ma?” Patmi hanya sanggup mengangguk.
“Ayah pasti bisa dong seperti bissu. Aku mau lihat, Yah.” Aku terkesiap mendengar permintaan itu. Ibu dan Patmi pun sangat kaget. Kenapa harus begini?
“Sayang… andai ayah bisa, ingin rasanya segera kuperlihatkan depan Wahyu. Tapi itu kelemahan ayah, Nak. Untuk sekali ini saja ayah minta maaf. Ayah tidak bisa.” Kucoba member pengertian pada Wahyu. Tak ada ucapan yang ia lontarkan. Tapi raut mukanya membiaskan rona kecewa yang sangat besar. Seorang anak telah kecewa pada ayahnya. Oh sungguh aku tak mampu memenuhi permintaan anakku sendiri.
“Lakukan sekali ini saja Man! Demi anakmu.”
“Tapi aku tidak bisa, Bu. Lagian sudah terlalu lama aku tak melakukannya. Aku sudah lupa semuanya.”
“Mungkin kamu telah berubah tapi jiwa kamu masih tetap seorang bissu, Man. Lakukan demi Wahyu. Kamu bisa minta bantuan Puang Matoa. Jangan sampai dia kecewa pada ayahnya sendiri. Dia lagi sakit, kasihan kalau permintaannya tak terpenuhi.” Ibu terus mencoba meyakinkanku.
“Aku sudah bersumpah tak akan melakukannya lagi.” ucapku sambil menatap istriku. Patmi hanya memandangku dengan mata berkaca-kaca. Dia juga tak rela aku melakukannya.
“Demi anak kita sayang. Kamu pernah bisa melakukannya. Pasti kamu masih bisa. Lihat kondisi anak kita dia sangat lemah dan kecewa sama kamu. Melihat wajahmu saja sepertinya ia enggan” Ucapan Patmi mengalir lembut menyapa nalarku.
Aku pun menemui Puang Matoa di rumah Arajang. Setelah kurasa cukup dan yakin masih bisa melakukannya, aku kembali ke kamar rawat Wahyu.
Seraya berdoa kumulai melakukan gerakan maggiri. Awalnya hanya pada lengan dan berhasil. Tampak senyum di wajah Wahyu. Aku pun menusukkan keris ke perutku. Ouw… cairan merah tampak mengalir di bajuku seiring rasa sakit yang teramat perih. Aku melanggarnya. Samar kulihat wajah panik istriku. Semua tiba-tiba berubah kelam. Gelap. Dan aku tak ingat apa-apa lagi.
Kamis, 08 Januari 2009
untaian kata

UNTUKMU YANG TERDESAK
Saudaraku, kuterpaku dalam sepi
mencari jawaban atas Tanya
di balik sandiwara pengeras hati
saudaraku, alam ini damai dalam linangan air matamu
Di antara untaian doa di saat sujudmu
Namun kini, alam menangis dalam linangan darahmu
Mengiring kepergianmu dalam mengantar jasad nan suci
Saudaraku, ku menangis digelapnya malam
Menjamah benang-benang kemunafikan yang telah membelenggu
Menggoyahkan langkah dalam suara merdu si hitam hati
Mereka meluluhlantahkan shimponi indah adzan fardhu
Menyilaukan mata dari kiblat nan agung
Ku terpaku dalam sepi
Kuteteskan airmata di semburat marahku
Merajam ulah para penebar perang
Dia telah merenggut damai jiwa
Menciptakan debu-debu pedih dalam raga
Membiaskan rona sedih dan tangis duka
Saudaraku, walau jiwa dan raga menangis
Mulut merintih di pelukan derita
Namun rahmtNya bersemayam di sisi jiwa
*Saat bom Israel meruntuhkan damai Gaza
Senin, 05 Januari 2009
cerpen

SPEKTRUM CINTA DARI NEGERI DONGENG
Olif sadar kalau spektrum itu menyengat hatinya cukup kuat. Bahkan terlalu kuat sehingga ia tak kuasa untuk menghindar. Hatinya berwarna kala spektrum itu menyapa. Menyalakan pelita di dasar hati dan menyinari hasrat yang hampir beku. Spektrum itu menguasai tiap puing mimpinya. Menerbangkan angan hingga ke negeri dongeng. Cinta, spektrum yang kau pancarkan telah menawarkan senyum di pinggir hati.
“ Permisi”
“ Oh…” Olif kaget. Tanpa disadarinya seorang laki-laki telah berdiri di hadapannya. Laki-laki yang telah membawa spektrum di hatinya. Apakah ini di negeri dongeng? Tanya hati kecilnya dalam girang.
Seperti mimpinya semalam, pangeran datang menjemput di pintu istana kemudian mereka bercengkerama di taman utama kerajaan. Di temani bunga mawar dan anggrek yang bermekaran, rumput hijau menawan, suara gemericik air bersama alunan lembut suara para dayang berbaju sutera ungu yang lincah memetik anggur. Pangeranku gumam Olif. Tapi semua akhirnya terdampar pada lembah yang gelap. Saat tahu kalau dia hanya ingin masuk kelas. Ternyata Olif telah cukup lama menghalanginya masuk kelas. Dengan senyum malu Arin beranjak dari pintu ke tempat duduknya. “ Altar” Suara itu sangat jelas dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Altar hanya terpaku di tempatnya memandang dengan sorot bingung pada sosok Olif yang pergi begitu saja tanpa jawaban. Namun, senyum itu cukup menggores belahan jiwanya. Dasar cewek aneh. Tapi kalau dipikir-pikir dia antik, unik dan luar biasa pikir Altar sambil tersenyum dalam makna yang tersembunyi.
***
“Yes. Uh… metode penelitianku dapat A” Olif bersorak girang memamerkan senyum untuk semua temannya. Seperti mimpi karena menurut rumor yang beredar susah lulus mata kuliah ini.
“Selamat ya.” Denting waktu seakan berhenti sampai disini. Angin pun enggan bertiup. Altar ngucapin selamat ke aku hatinya melayang melewati horizon.
“Mata kuliah ini memang sulit tapi kita bisa lulus dengan nilai A lagi. Kayak mimpi ya? Mungkin karena kita sama-sama pintar, he…he…” Altar tersenyum lebar. Sedangkan Olif hanya membisu dengan pikiran entah dimana. Itulah kalimat terpanjang yang pernah Altar ucapkan pada Olif. Karena melihat Olif diam saja, Altar melanjutkan “Kita boleh sama-sama dapat A tapi sepertinya aku perlu meralat ucapanku tadi. Kita nggak sama pintar. Kamu cuma lagi beruntung aja kalau tidak karena kebetulan mungkin akan bernasib sama dengan yang lain.” Altar memojokkan Olif.
“Kepedean banget sih, kamu tuh yang cuma nebeng nasib doang di ujung pulpen bapak. Beliaukan PA kamu. Lagian aku bisa kok buktiin kalau aku lebih bisa dari kamu.” Olif mulai panas. Dia memang tidak tahan dipandang sebelah mata dan cenderung suka nekat.
“Ok. Kita buktiin, siapa yang duluan S1 berarti dia lebih pintar. Kamu boleh deh nyuruh aku apapun kalau kamu menang.” tantang Altar dengan sorot mata penuh arti. Entah apa yang dipikirkan Altar sehingga dia berani menaruh taruhan seperti itu.
“Siapa takut. Kalau kamu menang, kamu… boleh minta apapun sama aku.” ucap Olif tak mau kalah. Altar tersenyum mantap sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Tapi apa yang kamu minta nanti tidak boleh melanggar HAM dan tidak boleh mencemarkan nama baik.” balas Olif tanpa menyambut uluran tangan Altar. Dia pun berlalu dengan sejuta keheranan, kok aku mau taruhan gituan ya. Altar kan bukan rivalku dan spektrum itu? sesal bathinnya.
***
Perpustakaan, warnet, dan rumah senior menjadi tempat nongkrong Olif sekarang. Bulan ini dia bertekad harus memasukkan judul ke pembimbingnya kemudian menyusun proposal penelitian. Olif yakin bisa mendahului Altar.
Siang malam Olif membaca untuk mendapatkan judul yang menggebrak. Entah apa yang dilakukan Altar sekarang? Bayangan itu kembali mencul mengganggu pikirannya. Mungkin Altar harus menjadi rivalku sekarang demi nama baik. Tapi bagi Olif, Altar tetaplah sosok yang menghantui mozaik harinya.
“Judul aku ditolak. Katanya terlalu biasa dan sederhana. Hm… sebaiknya aku melakukan observasi aja dulu, mungkin di luar sana ada fenomena yang menarik.” desah Olif diantara ceritanya kepada Mai. Sebenarnya Mai heran dengan sikap Olif. Kenapa Olif terlalu berambisi selesai tahun ini? Bukannya itu terlalu cepat? Tiga tahun empat bulan adalah waktu yang terlalu singkat untuk merampungkan kuliah.
Tak ada kabar tentang Altar. Olif menjadi gelisah sendiri dan harus berbaur dengan berbagai pertanyaan. Apakah Altar terlalu sibuk mengurus skripsinya sampai lupa ke kampus? Hati Olif menjadi ciut. Ada ketakutan yang mulai menyusup ke relung hatinya. Bagaimana kalau dia kalah? Apa yang akan diminta Altar padanya? Ah, sungguh kebodohan yang tak terperikan.
Hari-hari Olif menjadi serba sibuk. Dia tidak mau kehilangan waktunya hanya untuk mengurus rindu yang nakal di bilik jiwanya. Olif rindu sosok Altar yang selalu mengejutkannya. Altar terlalu gagah di matanya. Cool tapi humoris, alim tapi gaul, agak nakal tapi berprestasi. Andai Altar tahu?
***
Enam bulan telah berlalu, tetap tak ada kabar dari Altar. Setitik harapan untuk menang menggantung di pelupuk mata Olif yang baru selesai merampungkan hasil penelitiannya. Sepertinya bulan Maret yang akan mendatangkan kemenangan itu. Tahun ini tak mengikhlaskan detiknya untuk kemenangan Olif.
“Hai… Wah udah lama banget ya kita nggak ketemu. Kamu masih ingatkan taruhan kita?” Altar tiba-tiba muncul mengagetkan Olif yang sedang serius membaca. Akhirnya Olif bisa juga melihat sosok itu lagi. Dan spektrum yang terus dia kubur mengangkasa di langit hatinya. Tapi itu hanya sesaat, karena setitik harapannya tinggal jejak kala melihat pakaian Altar. Hitam-putih.
“Gimana jadi wisuda bulan ini?” Olif telah kalah dalam pertarungan yang dibentuknya sendiri. Olif harus mengakui kalau Altar memang pintar .
“Kamu mau meminta apa? Tapi ingat syaratnya.” ucap Olif kemudian dengan wajah juteknya dan berusaha memasang sikap berwibawa. Dia tidak mau kelihatan terlalu bodoh di mata Altar. Senyum penuh kemenangan Altar berkembang. Dia sebenarnya sudah tahu semua tentang Olif termasuk saat judulnya ditolak dan penelitiannya yang gagal.
“Aku hanya minta… kamu memakai cincin ini sebagai pengikat hati kita. Kamu bersediakan jadi calon permaisuriku” Altar menyerahkan kotak cincin berwarna ungu kepada Olif. Akhirnya kalimat itu berhasil juga dia keluarkan dari mulutnya. Tidak sia-sia dia mengeja kalimat itu di setiap spasi skripsinya.Olif kehilangan ekspresi wibawa yang sempat dia pasang beberapa menit lalu. Apakah ini di negeri dongeng? Pertanyaan itu kembali muncul bersama spektrum yang telah menguasai seluruh jiwa raganya.
Langganan:
Postingan (Atom)