Senin, 02 Maret 2009

essay

HARUSKAH MAHASISWA BERPOLITIK?
Oleh: Ani Dzakiyah
Pesta demokrasi 2009 sudah depan mata. Kedepannya diprediksi berbagai elemen masyarakat akan terjun dan ikut dalam pertarungan politik tersebut, termasuk mahasiswa. Keterlibatan mahasiswa dan kampus dalam perhelatan akbar politik di negeri ini menciptakan paradigma berbeda di beberapa kampus.
Sebagian besar kampus meyakini bahwa kampus harus steril dari urusan-urusan praktis partai politik. Sebagian lagi ada kecenderungan kampus mulai melakukan upaya pendekatan untuk mengakomodir kepentingan partai politik-sebagai media efektif memberikan kesempatan kepada partai politik untuk menemukan positioning strategisnya di mata konsituen.

Paradigma yang mengatakan bahwa kampus harus steril dari aktivitas partai politik harus ditelaah kembali secara tepat. Hal ini dimaksudkan agar golongan intelektual memahami bahwa realitas politik dan realitas sosial yang berkembang di tengah masyarakat haruslah tetap menjadi perhatian masyarakat kampus.
Mahasiswa memang menjadi komunitas yang unik dan telah tercatat di dalam sejarah perubahan selalu menjadi garda terdepan dan motor penggerak. Dalam pergerakannya mahasiswa tetap harus memperhatikan 4 peran yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya yaitu peran moral, sosial, akademik, dan politik.
Peran politik yang dipegang mahasiswa memperlihatkan bagaimana mahasiswa sebagai agent of change membedah berbagai problem politik dalam bingkai akademis. Sejatinya pemikiran politik mahasiswa merupakan sebuah gerakan politik yang secara moral mewadahi semua kepentingan yang perlu diakomodir secara akademis. Selain itu dengan adanya kegiatan parpol seperti kampanye ataupun diskusi publik pada mahasiswa bisa menjadi momen paling baik dalam proses pembelajaran politik dan demokrasi bagi mahasiswa itu sendiri. Pembelajaran ini penting karena fakta historis dan kultural dinamika dan perubahan suatu bangsa di seluruh dunia termasuk Indonesia, sangat kental diwarnai oleh tingkat sejauh mana masyarakat kampus berperan pada dinamika dan perubahan politik yang dialami suatu bangsa.
Kita yang masih memahami bahwa kampus harus steril masih menganggap aktivitas politik di kampus identik dengan kampanye massa, banyaknya pesan atribusi Parpol yang ada di kampus. Kalau memang demikian kontesnya maka sterilisasi dalam konteks itu harus atau tetap dijaga secara konsisten sebab yang demikian ini pasti akan mendistorsi prinsip-prinsip Tri Dharma Perguruan Tinggi. Apabila yang kita pahami tentang masuknya Parpol masih dengan pemahaman sempit seperti itu maka terlalu naif dan amat dangkal persepsi kita dalam menyediakan tempat bagi Parpol untuk melakukan proses dialektika politik.
Perbedaan persepsi tentang keterlibatan kampus atau perlunya kampus steril atau tidak dari segala bentuk aktivitas Parpol bukan satu-satunya perbedaan yang ada dalam menyikapi perhelatan politik negeri ini tetapi juga perbedaan mengenai posisi mahasiswa dalam pemilu. Sebagian menuntut mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan harus bersikap netral dan tidak menunjukkan keberpihakan kepada salah satu partai politik.
Posisi mahasiswa memang sebaiknya netral dari kepentingan politik mengingat peran politk yang dipikul mahasiswa sangat berat. Peran politik adalah peran yang paling berbahaya karena mahasiswa harus berfungsi sebagai presseur group ( group penekan ) bagi pemerintah yang zalim tanpa memandang partai yang mengusung dibalik pemerintahan itu.
Sekarang zaman kebebasan berpolitik telah terbuka lebar bagi siapapun termasuk mahasiswa tak seperti zaman orde baru lagi. Pada zaman orba pemerintah yang zalim merancang sedemikian rupa agar mahasiswa tidak mengambil peran politiknya. Pada masa orde baru daya kritis dipasung, siapa yang berbeda pemikiran dengan pemerintah langsung dicap sebagai makar dan kejahatan terhadap bangsa.
Posisi mahasiswa yang dituntut untuk netral bukan berarti harus membisukannya dari keramaian kegiatan politik (pemilu) 2009. Lalu apa yang harus kita lakukan pada pemilu 2009 dalam melaksanakan peran kita?
Sebagai mahasiswa yang tak lain adalah calon pemimpin negeri ini tak boleh tinggal mematung memerhatikan momentum pemilu 2009. Kita harus melakukan sebuah gerakan yang tak lepas dari nafas pergerakan mahasiswa itu sendiri yaitu idealis karena apa yang disuarakan mahasiswa adalah nilai kebenaran universal berupa nilai moral yang diakui bersama kebaikannya oleh seluruh masyarakat, seperti anti tirani, demokratisasi, berantas KKN dll.
Secara internal mahasiswa atau gerakan kemahasiswaan dalam jelang pemilu harus menyamakan persepsi tentang kawajiban kita menyelamatkan nasib bangsa dengan jalan mendorong lahirnya kepemimpinan yang bersih dan kuat. Hal ini bukanlah sesuatu yang mustahil karena mahasiswa pernah membuktikannya pada gerakan Reformasi 98.
Selain itu mahasiswa juga harus berperan diluar medan pertarungan politik yaitu memberikan informasi ataupun pembelajaran politik kepada masyarakat luas. Tidak semua masyarakat negeri ini paham tentang pergerakan politik. Bahkan pemilu sebenarnya tak memiliki warna bagi mereka. Baginya pemilu hanyalah formalitas yang ,mengharuskan dirinya untuk memilih orang atau partai yang tak dikenalnya dengan baik. Sedangkan untuk pemilu 2009 yang teknisnya berbeda dengan pemilu sebelumnya masih banyak masyarakat yang bingung dan belum mengetahuinya. Jangan sampai mereka menjadi sampah pesta politik. Olehnya itu mahasiswa jangan membiarkan hal ini terjadi dan ingat ada peran moral dan sosial yang harus dijalankan.
Walau mahasiswa tak perlu terjun ke dalam gelanggang pertarungan politik praktis, tapi peran harus tetap terlaksana. Ada satu hal yang penting dilakukan mahasiswa dalam pemilu nanti yaitu mengontrol serta mengawasi agar proses yang ada dapat memberikan output berkualitas dengan lahirnya kepemimpin yang kuat.
Pada gelanggang pertarungan politik 2009 banyak aktor-aktor yang akan ikut didalam dinamika tersebut, baik sebagai peserta (partai, caleg, capres dan cawapres) maupun panitia (KPU dan Panwas). Kecurangan-kecurangan tak ada yang dapat memungkiri bisa saja terjadi karena setiap diri menginginkan sebuah kemenangan. Bahkan banyak yang rela melakukan dan berkoraban apa saja untuk meraih visinya. Mahasiswa harus mengawasi dan mengontrol agar geliat politik ini dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan dan mencapai tujuan demokrasi yang diimpikan.
Selama ini mungkin terlalu banyak pihak yang telah muak dengan tingkah maupun pergerakan elit politik yang munafik apalagi demokrasi dan Pancasila mulai dinodai. Mungkin saja diantara pihak itu, mahasiswa termasuk dalam golongan yang bosan dan pasif dalam menyikapi kondisi bangsa ini. Menganggap gerakan politik hanyalah cara merebut kekuasaan. Mungkinkah ini terjadi karena kita belum mencapai kedewasaan berpolitik? Tapi sadar atau tidak masih banyak politikus kita yang memaknai politik sebagai sebuah cara untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat. Ataukah sikap acuh tak acuh dalam peran dan pemikiran kita pada gerakan politik lahir karena masih adanya pertanyaan yang belum terpecahkan. Haruskah mahasiswa berpolitik?
Mahasiswa adalah kaum terpelajar dinamis yang penuh dengan kreativitas. Mahasiswa adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari rakyat. Oleh karena itu, mahasiswa harus sadar akan arti tugas dan peranan intelektual. Mau atau tidak, mahasiswa harus mengambil bagian dalam pesta demokrasi ini. Pola pergerakan politik negeri ini tak boleh lepas dari pandangan mata.


Tidak ada komentar: