Selasa, 26 Januari 2010

Obesitas pada anak dalam cermin realita


Obesitas merupakan suatu keadaan fisiologis akibat dari penimbunan lemak secara berlebihan di dalam tubuh. Saat ini gizi lebih dan obesitas merupakan epidemik di negara maju, seperti Inggris, Brasil, Singapura dan dengan cepat berkembang di negara berkembang, terutama populasi kepulauan Pasifik dan negara Asia tertentu.
Prevalensi obesitas meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir dan dianggap oleh banyak orang sebagai masalah kesehatan masyarakat yang utama (Lucy A. Bilaver, 2009).
WHO menyatakan bahwa obesitas telah menjadi masalah dunia. Data yang dikumpulkan dari seluruh dunia memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan prevalensi overweight dan obesitas pada 10-15 tahun terakhir, saat ini diperkirakan sebanyak lebih dari 100 juta penduduk dunia menderita obesitas. Angka ini akan semakin meningkat dengan cepat. Jika keadaan ini terus berlanjut maka pada tahun 2230 diperkirakan 100% penduduk dunia akan menjadi obes (Sayoga dalam Rahmawaty, 2004).
Panama dan Kuwait tercatat sebagai dua negara dengan prevalensi obesitas tertinggi di dunia, yakni sekitar 37%. Setelah itu Peru (32%) dan Amerika Serikat (31%). Di Brasil, kenaikan kasus obesitas terjadi pada anak-anak sebesar 239%.
Di Eropa, Inggris menjadi negara nomor satu dalam kasus obesitas pada anak-anak, dengan angka prevalensi 36%. Disusul oleh Spanyol, dengan prevalensi 27% berdasarkan laporan Tim Obesitas Internasional (Cybermed, 2003).
Masalah obesitas meluas ke negara-negara berkembang: misalnya, di Thailand prevalensi obesitas pada 5-12 tahun anak-anak telah meningkat dari 12,2% menjadi 15,6% hanya dalam dua tahun (WHO, 2003). Tingkat prevalensi obesitas di Cina mencapai 7,1% di Beijing dan 8,3% di Shanghai pada tahun 2000 (WHO, 2000). Prevalensi obesitas anak-anak usia 6 hingga 11 tahun sudah lebih dari dua kali lipat sejak tahun 1960-an (WHO, 2003).
Potensi anak Indonesia untuk menjadi obesitas sama besarnya dengan potensi anak-anak di seluruh dunia bila keadaan lingkungan memungkinkan, begitu pula potensi untuk timbulnya konsekuensi medis sebagai akibatnya yang dapat menetap sampai ke masa kehidupan anak tersebut selanjutnya (Dedi Subardja,2004:9 dalam Wijayanti, 2007).
Obesitas di Indonesia sudah mulai dirasakan secara nasional dengan semakin meningginya angka kejadiannya. Selama ini, kegemukan di Indonesia belum menjadi sorotan karena masih disibukkan masalah anak yang kekurangan gizi. Meskipun obesitas di Indonesia belum mendapat perhatian khusus, namun kini sudah saatnya Indonesia mulai melirik masalah obesitas pada anak. Jika dibiarkan, akan mengganggu sumber daya manusia (SDM) di kemudian hari.
Prevalensi obesitas di Indonesia mengalami peningkatan mencapai tingkat yang membahayakan. Berdasarkan data SUSENAS tahun 2004 prevalensi obesitas pada anak telah mencapai 11%. Di Indonesia hingga tahun 2005 prevalensi gizi baik 68,48%, gizi kurang 28%, gizi buruk 88%, dan gizi lebih 3,4% (Data SUSENAS, 2005).
Sedangkan berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, prevalensi nasional obesitas umum pada penduduk berusia ≥ 15 tahun adalah 10,3% terdiri dari (laki-laki 13,9%, perempuan 23,8%). Sedangkan prevalensi berat badan berlebih anak-anak usia 6-14 tahun pada laki-laki 9,5% dan pada perempuan 6,4%. Angka ini hampir sama dengan estimasi WHO sebesar 10% pada anak usia 5-17 tahun.
Menurut penelitian DR. Dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K) dari FKUI/RSCM bersama koleganya pada tahun 2002 melakukan penelitian di 10 kota-kota besar yaitu Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Semarang, Solo, Jogkakarta, Surabaya, Denpasar, dan Manado dengan subyek siswa sekolah dasar. Hasilnya memperlihatkan prevalensi obesitas pada anak sebesar 17,75 persen di Medan, Padang 7,1 persen, Palembang 13,2 persen, Jakarta 25 persen, Semarang 24,3 persen, Solo 2,1 persen, Jogjakarta 4 persen, Surabaya 11,4 persen, Denpasar 11,7 persen, dan Manado 5,3 persen (Farmacia, 2007).
Terlihat dengan jelas bahwa status gizi balita di Indonesia sedang dihadapkan pada dua masalah gizi ganda, dimana pada kelompok masyarakat tertentu terjadi gizi kurang sedangkan pada kelompok yang lain dihadapkan pada kelebihan gizi (Depkes, 2007).
Masalah obesitas banyak dialami oleh beberapa golongan masyarakat, antara lain balita, anak sekolah, remaja, orang dewasa, dan orang lanjut usia. Dalam hal ini akan dibahas lebih lanjut mengenai obesitas pada anak sekolah dasar karena anak-anak dalam usia ini umumnya sudah dapat memilih dan menentukan makanan yang disukai dan gemar sekali jajan. Jajan yang mereka beli seperti es, gula-gula atau makanan lain yang tinggi kalori dan lemak serta rendah serat (Wijayanti, 2007).
Masalah obesitas pada anak adalah masalah yang kompleks. Banyak faktor yang berhubungan dengan kejadian obesitas pada anak. Ali Khomsan mengatakan bahwa hereditas (keturunan) menjadi salah satu faktor penyebab obesitas. Peluang seorang anak mengalami obesitas adalah 10% meskipun bobot badan orang tua termasuk dalam kategori normal. Bila salah satu orang tua obesitas peluangnya menjadi 40% dan bila kedua orang tuanya obesitas peluang anak meningkat sebesar 80% (Ali Khomsan, 2003:90 dalam Wijayanti, 2007).
Selain itu salah satu faktor yang berkontribusi pada kejadian obesitas pada anak adalah kurangnya aktivitas fisik. Kegiatan yang berkaitan erat dengan faktor kurang aktivitas fisik adalah lama waktu tidur. Apabila waktu tidur melebihi 8 jam maka dapat berisiko terjadinya obesitas.
Olahraga juga merupakan faktor penting pada kegiatan fisik anak. Anak yang kurang berolahraga atau tidak aktif sering kali menderita kegemukan atau kelebihan berat badan yang dapat mengganggu gerak dan kesehatan anak.
Terjadinya obesitas pada anak SD juga sering dihubungkan dengan perubahan gaya hidup dan pola makan. Hal ini seiring dengan perkembangan zaman yang menuntun anak-anak lebih cenderung senang dengan makanan di luar rumah. Masih banyak faktor lain yang berperan dalam kejadian obesitas pada anak.
Anak usia sekolah dasar memiliki karakteristik yang unik. Perkembangan fisik atau jasmani, bahasa, intelektual dan emosional sangat bergantung pada faktor-faktor dari luar. Perkembangan fisik atau jasmani anak berbeda satu sama lain, sekalipun anak-anak tersebut usianya relatif sama, bahkan dalam kondisi ekonomi yang relatif sama pula. Sedangkan pertumbuhan anak-anak berbeda ras juga menunjukkan perbedaan yang menyolok. Hal ini antara lain disebabkan perbedaan gizi, lingkungan, perlakuan orang tua terhadap anak, kebiasaan hidup dan lain-lain.
Menurut data Susenas tahun 1995 dan 1998 di Sulawesi Selatan. angka kegemukan cukup tinggi, yaitu dari 4,7% ke 6,22% dengan menggunakan indikator BB/U median baku WHO-NCHS. Hal ini menunjukkan jika masalah tersebut tidak segera diatasi, maka beban pemerintah khususnya Departemen Kesehatan akan semakin bertambah (Kanwil Depkes, 1998).
Sedangkan prevalensi obesitas pada kelompok umur 6-14 tahun berdasarkan Riskesdar 2007 di Sul-Sel terdapat 7,4% laki-laki dan 4,8% perempuan. Sebuah hasil penelitian lokal yang dilakukan oleh Fatmawati Radjab di SD Nusantara kota Makassar pada tahun 2002 menunjukkan bahwa berdasarkan hasil pengukuran antropometri dari 240 siswa dengan kelompok umur 10-12 tahun didapatkan 92 (38%) siswa yang mengalami kegemukan. Yang terdiri dari laki-laki 70 (76,1%) sedangkan perempuan sebanyak 22 (23,9%).
Obesitas yang terjadi di Indonesia bukan hanya ada di daerah perkotaan tetapi telah terjadi di daerah pedesaan. Tidak selalu harus berasal dari keluarga berkecukupan. Makan nasi melebihi porsi pun bisa saja membuat badan menjadi luar biasa subur. Anak –anak di pedesaan, yang bukan dari keluarga berkecukupan pun, sudah tercemar oleh pilihan menu (jajanan) yang sekaliber junk food, selain penganan yang serba manis, dan berlemak tinggi.
Selain itu, rata-rata bayi di desa juga sudah lebih dini dan belum waktunya diperkenalkan jenis makanan padat, sehingga badannya rata-rata melebihi ukuran seusianya, mungkin lantaran ketidaktahuan. Memberi nasi, pisang, bubur, sebelum bayi berumur 5 bulan, Salah satu penyebab kenapa banyak bayi di pedesaan yang gemuk (Nova, 2009).



perjalanan pulang

“Aku harus pulang.”
“Ini masih terlalu pagi, Say.” Rona berusaha menahanku. Diciumnya pipiku. Aku pun memandangi wajah gadis itu. Gadis yang baru kukenal siang tadi. Entah kelebihan apa yang kumiliki sehingga cewek manapun yang kudekati akan pasrah pada tatapanku. Aku memang ganteng, potongan tubuhku macho, dan tatapanku tajam, begitu kata Rona saat membelai wajahku.
Ah, wanita. Bagiku semua sama. Rapuh dan mudah takluk pada pria. Telah banyak wanita yang berhasil kucumbui lalu kutinggalkan. Mereka hanya bisa menangis, menangis dan menangis.
Aku benci air mata. Mengapa dia selalu menumbangkan ketegaran hati? Bahkan wanita paling tegar yang kukenal pun selalu kalah olehnya. Ibu.
Aku tak pernah tahu arti cinta. Yang kutahu cinta itu nafsu.
“Guys, aku pulang ya.” Ku coba melepas rangkulan Rona. Aku tahu dia masih ingin bermesraan denganku. Memang masih terlalu pagi untuk seorang Ryan pulang jam 22.00.
“Ada apa sih, Ryan? Tumben mau pulang, biasanya juga kamu paling bertahan sampai pagi.” Miko heran dengan sikapku.
Aku juga tak tahu kenapa aku ingin pulang. Padahal rumah hanya goa gelap yang akan selalu gelap. Secercah cahaya enggan mampir padanya. Sedangkan disini-klub andalan kami, semua hampir ada. Tawa, canda, keindahan, kenikmatan, kemesraan dan persahabatan. Hanya cinta yang menghindari tempat ini.
“Ehmm, aku tak tahu. Tiba-tiba saja aku ingin pulang. Aku bosan. Nggak rame sih.” Ku coba memberi alasan yang masuk akal.
“Yang lain pasti kesini. Tapi mungkin larut. Leo sama Kribo cuma nonton sama pacarnya. Sejam lagi sudah disini. Dan Si Bule cuma mengantar ibunya ke rumah sakit. Mungkin sekarang sedang menuju kesini.” Miko berusaha menahanku. Mendengar alasan Si Bule belum datanglah yang mengusikku tadi.
Ibu. Kenapa wanita itu selalu menyesakkan dadaku. Aku belum bisa mencintanya. Walaupun dialah satu-satunya milikku. Mungkin.
Malam ini aku terpaksa pulang tanpa menunggu teman lainnya. Kutitip Rona pada Miko. Dan aku mulai membelah malam dengan deru CR-V merahku. Bayangan ibu berkelebat di benak. Apakah dia baik-baik saja? Ah, sejak kapan aku peduli.
Jalanan cukup sepi, tanpa ragu kutambah kecepatan. Dorongan nuansa sunyi malam memaksaku untuk terus menambah kecepatan. Aku ingin cepat sampai di rumah. Entah darimana keinginan itu muncul.
Upss…hampir saja aku menabrak gadis berambut sebahu yang hendak menyeberang. Sepertinya aku salah. Dia sudah terserempet CR-Vku.
“Kamu tidak apa-apa?” Dengan hati-hati kudekati gadis itu.
“Aku tidak apa-apa.” Dia tersenyum menatapku. Matanya jernih seperti mata ibu. Lagi-lagi wanita itu.
“Aku antar pulang ya?” tawarku sekedar basa-basi.
“Tapi rumahku jauh.”
“Oh, nggak apa-apa.” Kali ini aku tulus. Sungguh aneh. Ryan sadar!!!
Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Aku benar-benar aneh. Gadis cantik disampingku kudiamkan. Ini di luar kebiasaanku.
Kami berhenti di depan sebuah rumah sangat sederhana. Gadis itu memintaku singgah. Aku berusaha nenolak, tapi karena suara barang pecah dari dalam rumah akhirnya aku ikut masuk.
Tampak seorang laki-laki setengah baya berkursi roda berusaha bangkit meraih segelas air tapi sia-sia. Airnya tumpah tak bersisa sebelum mampir ketenggorokannya.
Gadis itu tampak panik.
“Ayah nggak apa-apa kok, Vina.” Sepertinya dia tidak mau menyusahkan orang lain.
“Kamu pulang dengan siapa?” laki-laki itu menatapku heran.
“Seorang teman, namanya…”
“Ryan.” Segera kuperkenalkan diriku.
“Suruh dia bermalam! Malam sudah larut dan sebentar lagi hujan turun.” pesan laki-laki itu sambil berlalu. Aku hanya diam. Ingin menolak tapi suara petir tak memberi celah.
Vina menunjukkan kamar tamunya lalu berlalu. Malam yang aneh. Oh, mimpikah aku?
***
“Ha… ha… ha… Kak Vina lucu deh.”
Aku menggeliat di bawah selimut. Suara tawa nyaring itu menusuk bawah sadarku. Sempoyongan kugapai pintu kamar. Mencoba menyatu dengan suasana pagi yang cerah.
Hatiku membeku dan mata pun tak berkedip menatap indahnya senyum para tuan rumah. Bercengkerama dalam dawai canda, saling berbagi dan mensyukuri kebersamaannya. Cintakah yang menyatukan mereka dalam berbagai kekurangan?
Senyum dan tatapan Vina seakan berkata,”Beginilah ibu mengajari kami tentang cinta.”
Ibu. Oh… Wanita itu, pernahkah ia mengajarkan tentang cinta padaku? Mungkin ya, tapi hatiku terlanjur kelabu. Tak ada cinta, hanya nafsu untuk memiliki dan menguasai. Terlalu tinggi Vina memaknai cinta. Merawat seorang ayah yang cacat tanpa memberi rezeki. Melindungi adik yang keterbelakangan mental. Ah, cinta inikah campur tanganmu?
***
“Aku harus pulang.” pamitku pada ketiga penghuni rumah sederhana itu. Senyum ketiganya tulus setulus senyum wanita yang mungkin gelisah menantiku. Ah, ibu.
Beribu pikiran bergelantung di peti akalku. Mencoba mencari sisi kehidupan yang bisa mengenalkanku pada cinta. Nihil. Semua pudar tak berbekas. Kutambah kecepatan CR-V merahku. Wajah ibu tiba-tiba menyusup perih dalam pandangan.
Diakah peri cintaku? Tidak. Wanita yang pernah memaksaku pergi dari rahimnya tidak mungkin mengajariku cinta. Pengkhianatan dan kebencian yang justru ku mengerti.
Mungkin bagi Vina, cinta membuatnya bahagia saat orang yang disayangi bahagia. Cinta untuk melayani. Cinta untuk melindungi. Cinta itu memberi bukan meminta. Terlalu picik bila hatiku mengangguk sedang aku hanya inginkan kepuasan.
“Tolong… tolong mundur Pak, Bu!” Hiruk pikuk di sepanjang jalan membuatku kembali ke dunia nyata.
Kecelakaan, gumamku. Kudekati kerumunan dan mencoba menyusup untuk melihat korbannya. Orang kaya berdasi terkapar karena takdir. Seorang anak kecil penjual bunga melemparkan setangkai mawar putih pada sosok yang mungkin sudah tak bernyawa itu. Entah apa maksudnya.
Hatiku miris. Ingin menangis tapi karena apa. Toh, itu bukan naluri seorang laki-laki. Aku pun tak mengenalnya.
“Aku harus segera pulang.” Kembali kususuri jalanan yang mulai macet.
***
Kupandangi seluruh lekuk rumah bercat putih itu sebelum kuputuskan untuk mengetuknya. Sepi. Kuulangi mengetuknya. Tetap tak ada yang merespon. Kucoba untuk memutar gagangnya. Ternyata tidak terkunci. Aku pun melangkah menuju kamarku. Hanya beberapa langkah aku berhenti. Kudapati ibu menangis di depan TV. Dengan ragu kudekati tempat itu. Berita kecelakaan tadi sedang disiarkan. Ternyata laki-laki itu seorang pengusaha kaya sekaligus anggota DPR. Wajar kalau diberitakan. Justru yang tak wajar adalah ibu menangis untuknya. Untuk apa? Haruskah aku bertanya?
Air mata itu juga menyayat hatiku. Aku tak mengerti. Ingin kugenggam tangannya. Tapi tidak mungkin aku melakukan itu. Biarlah dia menyadari kedatanganku. Toh, ia akan memulai bercerita seperti biasanya.
“Kamu sudah pulang, Nak?” suaranya parau semakin mendera ibaku. Aku hanya batuk kecil tanda kalau aku benar-benar ada di dekatnya. Rasa penasaranku mulai membuncah.
“Kenapa Ibu menangis?” pertanyaan itu hanya bisa menggema dalam dada.
“Kamu pernah bertanya, siapa laki-laki bajingan yang berani menjadi ayahmu.” Bibir tipis itu mulai bercerita. Dan akan selalu bercerita walaupun aku kadang tak ingin mendengarnya.
“Dia ayahmu.” Selepas dua kata itu dia beranjak pergi tanpa penjelasan. Membiarkan aku bertanya-tanya. Heran. Tak percaya. Siapa dia? Laki-laki yang meninggal itukah? Laki-laki yang telah menghilangkan ceria ibuku. Laki-laki yang memburamkan hari-hariku. Laki-laki bajingan, begitu aku menyebutnya.
Kenapa ibu menangis untuknya? Seharusnya bersyukur karena dunia ini telah kehilangan seorang pengkhianat cinta. Seperti itukah ibu memaknai arti cinta? Air matanya seakan menjawab tanyaku,” Cinta itu memaafkan bukan mendendam.”
Itukah cinta? Semua pecahan nuansa hari ini memaksaku untuk berlari. Sejauh yang aku bisa.
***
Perjalanan yang bertumpu pada kegundahan jiwaku akhirnya berhenti di kos Miko.
“Mik… Miko…” Tak ada yang menyahut. Kemana sih siang-siang begini? tanyaku dalam hati. Karena tidak terkunci dan sepi, aku masuk. Betapa terperanjatnya aku saat kubuka pintu kamar Miko.
“Rona, ngapain kamu disini?” Aku naik pitam. Walau bagaimana pun Rona masih milikku. Aku belum mencampakkanya. Rona yang sudah hampir telanjang tak tahu harus berkata apa. Segera merapikan diri.
“Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kamu disini?” Miko membela Rona.
“Bajingan kamu, Mik. Kamu kan tahu Rona masih milikku.”
“Kamu sudah menitipkan dia padaku. Dan seperti inilah aku melindunginya.”
“Oh ya…”
“Ya. Aku bosan hanya mendapatkan sisamu saja. Toh, Rona mencintaiku.” Suara Miko meninggi.
“Persetan dengan cinta.”
“Itu bagi kamu. Karena kamu memang terlahir bukan karena cinta.”
“Kurang ajar!!!” Aku tak bisa menahan emosiku lagi. Kepal tinjuku segera kudaratkan di pipinya. Ku tinggalkan tempat itu dengan kebencian. Kemana lagi aku harus pergi? Mungkinkah aku pulang ke rumah bercat putih itu?
***
Jejak langkah yang kutinggalkan semakin nyata. Tak mungkin aku menghapusnya. Dan itu tampak semakin terang saat aku terdampar kembali ke rumah bercat putih. Kudekati pintu yang tak terkunci. Kemana ibu?, heranku. Segera aku mencarinya. Biasanya kalau aku pulang dia sedang menonton, menjahit, atau di dapur. Tapi kenapa dia tidak ada?
Pasrah. Aku tak menemukannya. Kubawa tubuh penatku menuju kamar. Aku tercekat. Kudapati ibu tergeletak di ambang pintunya.
“Ibu!!!” Lidahku kelu. Tanpa sadar kupanggil wanita itu. Panggilan yang tak pernah singgah di lidahku.
Ketakutan menyelinap dalam hatiku. Sebuah perasaan aneh menjalar dalam aliran darahku. Hubunganku dengan ibu masih hambar. Dan kini dia mau meninggalkanku. Curang. Dia lari begitu saja dari hidupku. Tidak!!!
Kugendong tubuh kurusnya ke mobil. Melaju memburu waktu ke tempat pemberi sedikit harapan. Rumah sakit-tempat yang tak ingin kumasuki.
Sejam sudah aku menunggu tapi ibu masih belum siuman. Aku mulai panik. Hatiku getir. Rasa takut kehilangan menghantuiku. Hanya wanita ini yang setia hidup bersamaku. Sabar merawatku walau dia tak ingin. Tabah membiayai hidupku yang tak karuan. Dulunya kuanggap Miko, Kribo, Leo dan Si Bule yang paling setia bersamaku. Mereka yang memberiku semangat, kegembiraan dan kesenangan. Tapi waktu telah menjawab semuanya. Air mata yang tak pernah kukenal mencoba membasahi sedihku. Sepotong doa bergetar di lidahku. Selamatkan ibu, ya Allah.
Mata ibu mulai terbuka. Sebersit ceria mengembang di bibirku. Kupandangi ibu dengan air mata yang semakin membasahi wajahku.
“Ryan…” pelan diucapkannya namaku.
“Maafkan ibu. Kamu terpaksa ikut menanggung akibat masa laluku. Aku tak tahu apakah hatimu akan tersentuh cinta. Selama ini hanya kebencian yang kulihat dari dirimu. Tapi air mata ini menjadi tanda ada cinta dalam hatimu. Semoga untuk ibu, Nak.” Dihapusnya air mata di pipiku. Kubiarkan tangan yang mulai keriput itu menyentuhku. Sentuhannya semakin meyakinkanku kalau getar yang kurasakan ini adalah cinta. Aku mencintaimu, Bu.



Kamis, 14 Januari 2010

Bila Cinta


Bila cinta
Arus-arus berdendang memecah batu
Gelombang menghapus bibir tak lepuh
Bila cinta


Ucapan manis menghujam terbalas senyum
Merembes kehormatan bernaung janji
Ah, bila cinta
Mahkota bertumit hitam bercahaya
Menggoyahkan roh2 sihir madu secawan
Bila…
Silau angkasa terbuai rona cemerlang
Cinta mengelus tengkuk berbulu nafsu
Dimana arti suci?
Fitrah tulus cahaya Ilahi
Biarlah membara
Mengikis peluh
Bila engkau cinta


Minggu, 06 Desember 2009

Sindrom Skripsi


Semester tujuh bagi sebagian mahasiswa bukanlah masa yang perlu merenggut separuh waktu. Berbeda dengan realita yang harus dijalani Delisha dengan teman satu kampusnya. Awal semester tujuh adalah ambang batas kecepatan arus kencang tak berperasaan bagi jiwa-jiwa penuntut kebebasan dan pengagum ketidakseriusan. Termasuk Delisha yang belum siap menghadapi puncak keseriusan langkahnya.
Berbagai gejala muncul satu per satu. Sibuk, lelah, pusing, bosan, hingga stress menampakkan wajah bengis di sepanjang koridor. Dengan modal 40% keseriusan ditambah 35% kesiapan plus 55% semangat,

Delisha mencoba masuk dalam bisnis reputasi akhir itu. Dia tak ingin tergilas waktu.
Di hari yang dianggapnya akan membawa keberuntungan, Delisha mencoba mengajukan judul hasil mesin terbaik otak. Lambat tapi pasti. Pelan tapi mulus, bujuk nuraninya. Entah sudah berapa detak jantung memaksa peluh bercucuran. Menegangkan urat saraf dalam jasad kaku di depan dosen pembimbing.
Senyum itu akhirnya mengembang tapi hanya beberapa detik telah terganti oleh gelengan kepala Sang Pembimbing disusul kata manis yang takkan terlupakan.
“Ajukan judul ulang ya!”
“Ya, Pak.” Hanya itu yang mampu keluar dari lidah kelu Delisha. Terpuruk, sudah pasti. Ingin berteriak melampiaskan kecewa tapi tak mungkin. Masih terlalu tinggi rasa malu yang dijunjungnya.
Berjalan dengan kepala teertunduk sungguh tak nyaman. Tapi entah sudah sejauh mana kaki melangkah Delisha tak mampu menatap ke depan. Trauma, mungkin itu yang dirasakannya.
Sapaan hari belum mampu melembutkan rasa sesal dalam hatinya. Hingga hati nurani bertindak. Kamu tak boleh seperti ini Delisha! Ayo bangkit, tunjukkan kalau kamu bisa! Bisikan itu sangat kuat menghujam hati kecilnya.
Tak ingin tertinggal terlalu jauh, dibongkarnya semua bahan kuliah selama ini. Slide-slide kuliah, catatan dan buku dilahapnya. Judul baru itu harus segera lahir. Semua sia-sia. Ide itu seakan terpenjara di ruang beku.
Bertambah sudah gejala baru dalam arus itu. Malas. Gejala itu memaksa jiwa-jiwa lelah lebih rajin ke perpustakaan dibanding kuliah. Di titik gerah itu Delisha berusaha membangun diskusi dengan teman-temannya.
“Gimana kalau aku ambil tema kespro tapi variabelnya media Hp?”
“Bagus juga, apalagi di kampung-kampung sekarang banyak sekali remaja yang buka facebook, internet gitu pakai Hp. Siapa yang tahu kalau mereka buka hal yang berbau pornografi.” Saran Neny.
Tema itu menghantui malam-malam Delisha. Yang akhinya pupus oleh judul baru dari rumusan bahan semester lalu. Dan tanda tangan tanda acc berhasil menghiasi lembar usulan judul Delisha.
Kini dia mencoba masuk dalam gelombang itu. Berkutat dengan hal-hal baru yang sulit dia bayangkan. Kuliah semakin menuntut eksistensi penulisan skripsi. Walaupun nyali yang terpancang kuat dalam benak Delisha mulai menyusut. Dia tak sanggup dalam himpitan keseriusan dan kesibukan. Ditambah tuntutan amanah luar yang semakin menyesakkan dada. Tak mampu dia berpikir jenih dalam hembusan nafas bebas. Hatinya ingin menyesali langkah itu tapi tak ingin ada penyesalan. Dan hanya mampu bertanya “Kenapa kondisi ini seakan sindrom yang menggerogoti raga, seakan tak mampu rileks menjalani hari?”.
Delisha tak ingin mendramatisi keadaan itu. Tapi merasakan sindrom itu membuatnya harus memacu diri lebih maju. Para jiwa-jiwa lelah seakan ingin segera meninggalkan kampus yang telah membesarkan jiwanya. Lari dari tuntutan peran besar sebagai mahasiswa. Ataukah mereka sudah bosan dengan aturan-aturan yang terasa mengganggu apresiasi diri.
Jauh di lubuk hati Delisha masih banyak hal lain yang ingin dicapainya sebagai mahasiswa. Mungkin bukan dari ranah akademik, tapi ranah lain yang ingin dia coba bangun. Masih ada rasa juang yang ingin diembannya disela tuntutan keluarga dan rasa iri pada pergerakan rekan seperjuangan.
Waktu semakin membawa Delisha pada ruangan sesak. Mencoba eksis meraup banyak waktu terbuang dari sisinya.
“Sa, sibuk sekali ya? Padahal ada lomba nasional bergengsi, kamu harusnya ikut.” Sukma mencoba menyadarkan tentang karirnya. Ajang bergengsi itu memang harus ada nama Delisha, setidaknya sebagai peserta.
Rasa penasaran yang terlalu tinggi merubah konsentrasi Delisha. Arah yang telah jelas ditempuhnya berubah haluan. Aku harus ikut lomba itu, tegas hatinya.
Berteman google, kertas, pulpen, laptop dan teman-teman yang kadang membawa pada alam kegilaan imajinasi dijalaninya. Minus 3 hari membuat bantal harus iri pada tuts laptop. Draft proposal pun harus merintih mencoba mencari perhatian. Delisha semakin jauh dalam dunia imajinasinya. Kesibukan teman-teman dan nuansa hangat konsultasi dengan pembimbing tak melenakan Delisha.
“Sudah ada kupon Kak?” tanya Delisha.
“Belum, nanti Sukma yang belikan. Sudah selesai naskahnya?” Delisha hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan kak Vina.
Minus 1 hari lagi pemasukan berkas lomba ditutup. Delisha telah merampungkan semuanya. Dengan langkah ringan dia pergi menunaikan kewajiban sebagai mahasiswa.
“Hai Delisha, kemana saja? Oh ya kalau tidak salah kamu dan teman satu pembimbing akan praproposal 3 hari lagi.” Ucapan Gina meruntuhkan bangunan senyum di pipinya. Delisha tak mampu menjawab apa-apa. Sungguh dia belum siap dengan semua itu. Tak pernah disangka secepat itu arus membawanya pada ambang akhir kampus.
Kembali Delisha berjuang di sisa nyali yang dimilikinya. Malu, sungguh malu pada berkas-berkas proposal yang pernah dia abaikan demi reputasi dan penghargaan yang belum pasti. Bab 2 masih terlalu gersang sedangkan bab 3 dan 4 menari tak sabar untuk segera dijamah. Hari-hari itu berguguran. Delisha pun terkapar di gulita malam.


Rabu, 18 November 2009

Ada Kalanya


siapa yang tahu bila langkah ini tersandung dan harus meneteskan pilu di wajah.
siapa yang menduga kalau hati terkadang diambang ketidakberdayaan
adakalanya pandangan rabun oleh silau perasaan yang lembut, membawa hati pada pencarian yang kandas.
fenomena-fenomena dalam gerak juang memang tak lepas dari godaan. apalagi kerikil tajam yang menyentuh kadang terlalu sakit menggores hingga sanubari. Tapi semua itu akan membawa kita pada kedewasaan dan kebijakan.
Coba lihat!!!daun-daun di pohon yang rindang tak selamanya bertengger gagah di dahan. Mereka berguguran dalam lelahnya. Ada yang jatuh sia0sia, tapi ada pula yang membusuk kemudian menjadi pupuk yang menambah suburnya pohon itu. Hingga lahirlah daun-daun segar baru menggantikannya.
semua mencoba menjadi yang terbaik walau mereka tahu tak mungkin mampu sempurna.Ada ungkapan yang mengatakan "bila tak mampu menjadi beringin yang tumbuh di puncak bukit maka jadilah belukar. Belukar yang terbaik tumbuh di tepi danau. Bila tak mampou menjadi belukar jadilah rumput tapi rumput yang terbaik yang memperkuat tanggul pinggiran jalan. Jika kita tak mampu menjadi jln raya, jadilah saja jalanan kecil yang membawa orang ke mata air. Tak semua orang akan menjadi nahkoda, tentu ada awak kapalnya. Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya diri kita tapi sejauh mana kita bekerja dan menyelesaikannya"