“Aku harus pulang.”
“Ini masih terlalu pagi, Say.” Rona berusaha menahanku. Diciumnya pipiku. Aku pun memandangi wajah gadis itu. Gadis yang baru kukenal siang tadi. Entah kelebihan apa yang kumiliki sehingga cewek manapun yang kudekati akan pasrah pada tatapanku. Aku memang ganteng, potongan tubuhku macho, dan tatapanku tajam, begitu kata Rona saat membelai wajahku.
Ah, wanita. Bagiku semua sama. Rapuh dan mudah takluk pada pria. Telah banyak wanita yang berhasil kucumbui lalu kutinggalkan. Mereka hanya bisa menangis, menangis dan menangis.
Aku benci air mata. Mengapa dia selalu menumbangkan ketegaran hati? Bahkan wanita paling tegar yang kukenal pun selalu kalah olehnya. Ibu.
Aku tak pernah tahu arti cinta. Yang kutahu cinta itu nafsu.
“Guys, aku pulang ya.” Ku coba melepas rangkulan Rona. Aku tahu dia masih ingin bermesraan denganku. Memang masih terlalu pagi untuk seorang Ryan pulang jam 22.00.
“Ada apa sih, Ryan? Tumben mau pulang, biasanya juga kamu paling bertahan sampai pagi.” Miko heran dengan sikapku.
Aku juga tak tahu kenapa aku ingin pulang. Padahal rumah hanya goa gelap yang akan selalu gelap. Secercah cahaya enggan mampir padanya. Sedangkan disini-klub andalan kami, semua hampir ada. Tawa, canda, keindahan, kenikmatan, kemesraan dan persahabatan. Hanya cinta yang menghindari tempat ini.
“Ehmm, aku tak tahu. Tiba-tiba saja aku ingin pulang. Aku bosan. Nggak rame sih.” Ku coba memberi alasan yang masuk akal.
“Yang lain pasti kesini. Tapi mungkin larut. Leo sama Kribo cuma nonton sama pacarnya. Sejam lagi sudah disini. Dan Si Bule cuma mengantar ibunya ke rumah sakit. Mungkin sekarang sedang menuju kesini.” Miko berusaha menahanku. Mendengar alasan Si Bule belum datanglah yang mengusikku tadi.
Ibu. Kenapa wanita itu selalu menyesakkan dadaku. Aku belum bisa mencintanya. Walaupun dialah satu-satunya milikku. Mungkin.
Malam ini aku terpaksa pulang tanpa menunggu teman lainnya. Kutitip Rona pada Miko. Dan aku mulai membelah malam dengan deru CR-V merahku. Bayangan ibu berkelebat di benak. Apakah dia baik-baik saja? Ah, sejak kapan aku peduli.
Jalanan cukup sepi, tanpa ragu kutambah kecepatan. Dorongan nuansa sunyi malam memaksaku untuk terus menambah kecepatan. Aku ingin cepat sampai di rumah. Entah darimana keinginan itu muncul.
Upss…hampir saja aku menabrak gadis berambut sebahu yang hendak menyeberang. Sepertinya aku salah. Dia sudah terserempet CR-Vku.
“Kamu tidak apa-apa?” Dengan hati-hati kudekati gadis itu.
“Aku tidak apa-apa.” Dia tersenyum menatapku. Matanya jernih seperti mata ibu. Lagi-lagi wanita itu.
“Aku antar pulang ya?” tawarku sekedar basa-basi.
“Tapi rumahku jauh.”
“Oh, nggak apa-apa.” Kali ini aku tulus. Sungguh aneh. Ryan sadar!!!
Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Aku benar-benar aneh. Gadis cantik disampingku kudiamkan. Ini di luar kebiasaanku.
Kami berhenti di depan sebuah rumah sangat sederhana. Gadis itu memintaku singgah. Aku berusaha nenolak, tapi karena suara barang pecah dari dalam rumah akhirnya aku ikut masuk.
Tampak seorang laki-laki setengah baya berkursi roda berusaha bangkit meraih segelas air tapi sia-sia. Airnya tumpah tak bersisa sebelum mampir ketenggorokannya.
Gadis itu tampak panik.
“Ayah nggak apa-apa kok, Vina.” Sepertinya dia tidak mau menyusahkan orang lain.
“Kamu pulang dengan siapa?” laki-laki itu menatapku heran.
“Seorang teman, namanya…”
“Ryan.” Segera kuperkenalkan diriku.
“Suruh dia bermalam! Malam sudah larut dan sebentar lagi hujan turun.” pesan laki-laki itu sambil berlalu. Aku hanya diam. Ingin menolak tapi suara petir tak memberi celah.
Vina menunjukkan kamar tamunya lalu berlalu. Malam yang aneh. Oh, mimpikah aku?
***
“Ha… ha… ha… Kak Vina lucu deh.”
Aku menggeliat di bawah selimut. Suara tawa nyaring itu menusuk bawah sadarku. Sempoyongan kugapai pintu kamar. Mencoba menyatu dengan suasana pagi yang cerah.
Hatiku membeku dan mata pun tak berkedip menatap indahnya senyum para tuan rumah. Bercengkerama dalam dawai canda, saling berbagi dan mensyukuri kebersamaannya. Cintakah yang menyatukan mereka dalam berbagai kekurangan?
Senyum dan tatapan Vina seakan berkata,”Beginilah ibu mengajari kami tentang cinta.”
Ibu. Oh… Wanita itu, pernahkah ia mengajarkan tentang cinta padaku? Mungkin ya, tapi hatiku terlanjur kelabu. Tak ada cinta, hanya nafsu untuk memiliki dan menguasai. Terlalu tinggi Vina memaknai cinta. Merawat seorang ayah yang cacat tanpa memberi rezeki. Melindungi adik yang keterbelakangan mental. Ah, cinta inikah campur tanganmu?
***
“Aku harus pulang.” pamitku pada ketiga penghuni rumah sederhana itu. Senyum ketiganya tulus setulus senyum wanita yang mungkin gelisah menantiku. Ah, ibu.
Beribu pikiran bergelantung di peti akalku. Mencoba mencari sisi kehidupan yang bisa mengenalkanku pada cinta. Nihil. Semua pudar tak berbekas. Kutambah kecepatan CR-V merahku. Wajah ibu tiba-tiba menyusup perih dalam pandangan.
Diakah peri cintaku? Tidak. Wanita yang pernah memaksaku pergi dari rahimnya tidak mungkin mengajariku cinta. Pengkhianatan dan kebencian yang justru ku mengerti.
Mungkin bagi Vina, cinta membuatnya bahagia saat orang yang disayangi bahagia. Cinta untuk melayani. Cinta untuk melindungi. Cinta itu memberi bukan meminta. Terlalu picik bila hatiku mengangguk sedang aku hanya inginkan kepuasan.
“Tolong… tolong mundur Pak, Bu!” Hiruk pikuk di sepanjang jalan membuatku kembali ke dunia nyata.
Kecelakaan, gumamku. Kudekati kerumunan dan mencoba menyusup untuk melihat korbannya. Orang kaya berdasi terkapar karena takdir. Seorang anak kecil penjual bunga melemparkan setangkai mawar putih pada sosok yang mungkin sudah tak bernyawa itu. Entah apa maksudnya.
Hatiku miris. Ingin menangis tapi karena apa. Toh, itu bukan naluri seorang laki-laki. Aku pun tak mengenalnya.
“Aku harus segera pulang.” Kembali kususuri jalanan yang mulai macet.
***
Kupandangi seluruh lekuk rumah bercat putih itu sebelum kuputuskan untuk mengetuknya. Sepi. Kuulangi mengetuknya. Tetap tak ada yang merespon. Kucoba untuk memutar gagangnya. Ternyata tidak terkunci. Aku pun melangkah menuju kamarku. Hanya beberapa langkah aku berhenti. Kudapati ibu menangis di depan TV. Dengan ragu kudekati tempat itu. Berita kecelakaan tadi sedang disiarkan. Ternyata laki-laki itu seorang pengusaha kaya sekaligus anggota DPR. Wajar kalau diberitakan. Justru yang tak wajar adalah ibu menangis untuknya. Untuk apa? Haruskah aku bertanya?
Air mata itu juga menyayat hatiku. Aku tak mengerti. Ingin kugenggam tangannya. Tapi tidak mungkin aku melakukan itu. Biarlah dia menyadari kedatanganku. Toh, ia akan memulai bercerita seperti biasanya.
“Kamu sudah pulang, Nak?” suaranya parau semakin mendera ibaku. Aku hanya batuk kecil tanda kalau aku benar-benar ada di dekatnya. Rasa penasaranku mulai membuncah.
“Kenapa Ibu menangis?” pertanyaan itu hanya bisa menggema dalam dada.
“Kamu pernah bertanya, siapa laki-laki bajingan yang berani menjadi ayahmu.” Bibir tipis itu mulai bercerita. Dan akan selalu bercerita walaupun aku kadang tak ingin mendengarnya.
“Dia ayahmu.” Selepas dua kata itu dia beranjak pergi tanpa penjelasan. Membiarkan aku bertanya-tanya. Heran. Tak percaya. Siapa dia? Laki-laki yang meninggal itukah? Laki-laki yang telah menghilangkan ceria ibuku. Laki-laki yang memburamkan hari-hariku. Laki-laki bajingan, begitu aku menyebutnya.
Kenapa ibu menangis untuknya? Seharusnya bersyukur karena dunia ini telah kehilangan seorang pengkhianat cinta. Seperti itukah ibu memaknai arti cinta? Air matanya seakan menjawab tanyaku,” Cinta itu memaafkan bukan mendendam.”
Itukah cinta? Semua pecahan nuansa hari ini memaksaku untuk berlari. Sejauh yang aku bisa.
***
Perjalanan yang bertumpu pada kegundahan jiwaku akhirnya berhenti di kos Miko.
“Mik… Miko…” Tak ada yang menyahut. Kemana sih siang-siang begini? tanyaku dalam hati. Karena tidak terkunci dan sepi, aku masuk. Betapa terperanjatnya aku saat kubuka pintu kamar Miko.
“Rona, ngapain kamu disini?” Aku naik pitam. Walau bagaimana pun Rona masih milikku. Aku belum mencampakkanya. Rona yang sudah hampir telanjang tak tahu harus berkata apa. Segera merapikan diri.
“Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kamu disini?” Miko membela Rona.
“Bajingan kamu, Mik. Kamu kan tahu Rona masih milikku.”
“Kamu sudah menitipkan dia padaku. Dan seperti inilah aku melindunginya.”
“Oh ya…”
“Ya. Aku bosan hanya mendapatkan sisamu saja. Toh, Rona mencintaiku.” Suara Miko meninggi.
“Persetan dengan cinta.”
“Itu bagi kamu. Karena kamu memang terlahir bukan karena cinta.”
“Kurang ajar!!!” Aku tak bisa menahan emosiku lagi. Kepal tinjuku segera kudaratkan di pipinya. Ku tinggalkan tempat itu dengan kebencian. Kemana lagi aku harus pergi? Mungkinkah aku pulang ke rumah bercat putih itu?
***
Jejak langkah yang kutinggalkan semakin nyata. Tak mungkin aku menghapusnya. Dan itu tampak semakin terang saat aku terdampar kembali ke rumah bercat putih. Kudekati pintu yang tak terkunci. Kemana ibu?, heranku. Segera aku mencarinya. Biasanya kalau aku pulang dia sedang menonton, menjahit, atau di dapur. Tapi kenapa dia tidak ada?
Pasrah. Aku tak menemukannya. Kubawa tubuh penatku menuju kamar. Aku tercekat. Kudapati ibu tergeletak di ambang pintunya.
“Ibu!!!” Lidahku kelu. Tanpa sadar kupanggil wanita itu. Panggilan yang tak pernah singgah di lidahku.
Ketakutan menyelinap dalam hatiku. Sebuah perasaan aneh menjalar dalam aliran darahku. Hubunganku dengan ibu masih hambar. Dan kini dia mau meninggalkanku. Curang. Dia lari begitu saja dari hidupku. Tidak!!!
Kugendong tubuh kurusnya ke mobil. Melaju memburu waktu ke tempat pemberi sedikit harapan. Rumah sakit-tempat yang tak ingin kumasuki.
Sejam sudah aku menunggu tapi ibu masih belum siuman. Aku mulai panik. Hatiku getir. Rasa takut kehilangan menghantuiku. Hanya wanita ini yang setia hidup bersamaku. Sabar merawatku walau dia tak ingin. Tabah membiayai hidupku yang tak karuan. Dulunya kuanggap Miko, Kribo, Leo dan Si Bule yang paling setia bersamaku. Mereka yang memberiku semangat, kegembiraan dan kesenangan. Tapi waktu telah menjawab semuanya. Air mata yang tak pernah kukenal mencoba membasahi sedihku. Sepotong doa bergetar di lidahku. Selamatkan ibu, ya Allah.
Mata ibu mulai terbuka. Sebersit ceria mengembang di bibirku. Kupandangi ibu dengan air mata yang semakin membasahi wajahku.
“Ryan…” pelan diucapkannya namaku.
“Maafkan ibu. Kamu terpaksa ikut menanggung akibat masa laluku. Aku tak tahu apakah hatimu akan tersentuh cinta. Selama ini hanya kebencian yang kulihat dari dirimu. Tapi air mata ini menjadi tanda ada cinta dalam hatimu. Semoga untuk ibu, Nak.” Dihapusnya air mata di pipiku. Kubiarkan tangan yang mulai keriput itu menyentuhku. Sentuhannya semakin meyakinkanku kalau getar yang kurasakan ini adalah cinta. Aku mencintaimu, Bu.
Selasa, 26 Januari 2010
Kamis, 14 Januari 2010
Bila Cinta

Bila cinta
Arus-arus berdendang memecah batu
Gelombang menghapus bibir tak lepuh
Bila cinta
Ucapan manis menghujam terbalas senyum
Merembes kehormatan bernaung janji
Ah, bila cinta
Mahkota bertumit hitam bercahaya
Menggoyahkan roh2 sihir madu secawan
Bila…
Silau angkasa terbuai rona cemerlang
Cinta mengelus tengkuk berbulu nafsu
Dimana arti suci?
Fitrah tulus cahaya Ilahi
Biarlah membara
Mengikis peluh
Bila engkau cinta
Minggu, 06 Desember 2009
Sindrom Skripsi

Semester tujuh bagi sebagian mahasiswa bukanlah masa yang perlu merenggut separuh waktu. Berbeda dengan realita yang harus dijalani Delisha dengan teman satu kampusnya. Awal semester tujuh adalah ambang batas kecepatan arus kencang tak berperasaan bagi jiwa-jiwa penuntut kebebasan dan pengagum ketidakseriusan. Termasuk Delisha yang belum siap menghadapi puncak keseriusan langkahnya.
Berbagai gejala muncul satu per satu. Sibuk, lelah, pusing, bosan, hingga stress menampakkan wajah bengis di sepanjang koridor. Dengan modal 40% keseriusan ditambah 35% kesiapan plus 55% semangat,
Delisha mencoba masuk dalam bisnis reputasi akhir itu. Dia tak ingin tergilas waktu.
Di hari yang dianggapnya akan membawa keberuntungan, Delisha mencoba mengajukan judul hasil mesin terbaik otak. Lambat tapi pasti. Pelan tapi mulus, bujuk nuraninya. Entah sudah berapa detak jantung memaksa peluh bercucuran. Menegangkan urat saraf dalam jasad kaku di depan dosen pembimbing.
Senyum itu akhirnya mengembang tapi hanya beberapa detik telah terganti oleh gelengan kepala Sang Pembimbing disusul kata manis yang takkan terlupakan.
“Ajukan judul ulang ya!”
“Ya, Pak.” Hanya itu yang mampu keluar dari lidah kelu Delisha. Terpuruk, sudah pasti. Ingin berteriak melampiaskan kecewa tapi tak mungkin. Masih terlalu tinggi rasa malu yang dijunjungnya.
Berjalan dengan kepala teertunduk sungguh tak nyaman. Tapi entah sudah sejauh mana kaki melangkah Delisha tak mampu menatap ke depan. Trauma, mungkin itu yang dirasakannya.
Sapaan hari belum mampu melembutkan rasa sesal dalam hatinya. Hingga hati nurani bertindak. Kamu tak boleh seperti ini Delisha! Ayo bangkit, tunjukkan kalau kamu bisa! Bisikan itu sangat kuat menghujam hati kecilnya.
Tak ingin tertinggal terlalu jauh, dibongkarnya semua bahan kuliah selama ini. Slide-slide kuliah, catatan dan buku dilahapnya. Judul baru itu harus segera lahir. Semua sia-sia. Ide itu seakan terpenjara di ruang beku.
Bertambah sudah gejala baru dalam arus itu. Malas. Gejala itu memaksa jiwa-jiwa lelah lebih rajin ke perpustakaan dibanding kuliah. Di titik gerah itu Delisha berusaha membangun diskusi dengan teman-temannya.
“Gimana kalau aku ambil tema kespro tapi variabelnya media Hp?”
“Bagus juga, apalagi di kampung-kampung sekarang banyak sekali remaja yang buka facebook, internet gitu pakai Hp. Siapa yang tahu kalau mereka buka hal yang berbau pornografi.” Saran Neny.
Tema itu menghantui malam-malam Delisha. Yang akhinya pupus oleh judul baru dari rumusan bahan semester lalu. Dan tanda tangan tanda acc berhasil menghiasi lembar usulan judul Delisha.
Kini dia mencoba masuk dalam gelombang itu. Berkutat dengan hal-hal baru yang sulit dia bayangkan. Kuliah semakin menuntut eksistensi penulisan skripsi. Walaupun nyali yang terpancang kuat dalam benak Delisha mulai menyusut. Dia tak sanggup dalam himpitan keseriusan dan kesibukan. Ditambah tuntutan amanah luar yang semakin menyesakkan dada. Tak mampu dia berpikir jenih dalam hembusan nafas bebas. Hatinya ingin menyesali langkah itu tapi tak ingin ada penyesalan. Dan hanya mampu bertanya “Kenapa kondisi ini seakan sindrom yang menggerogoti raga, seakan tak mampu rileks menjalani hari?”.
Delisha tak ingin mendramatisi keadaan itu. Tapi merasakan sindrom itu membuatnya harus memacu diri lebih maju. Para jiwa-jiwa lelah seakan ingin segera meninggalkan kampus yang telah membesarkan jiwanya. Lari dari tuntutan peran besar sebagai mahasiswa. Ataukah mereka sudah bosan dengan aturan-aturan yang terasa mengganggu apresiasi diri.
Jauh di lubuk hati Delisha masih banyak hal lain yang ingin dicapainya sebagai mahasiswa. Mungkin bukan dari ranah akademik, tapi ranah lain yang ingin dia coba bangun. Masih ada rasa juang yang ingin diembannya disela tuntutan keluarga dan rasa iri pada pergerakan rekan seperjuangan.
Waktu semakin membawa Delisha pada ruangan sesak. Mencoba eksis meraup banyak waktu terbuang dari sisinya.
“Sa, sibuk sekali ya? Padahal ada lomba nasional bergengsi, kamu harusnya ikut.” Sukma mencoba menyadarkan tentang karirnya. Ajang bergengsi itu memang harus ada nama Delisha, setidaknya sebagai peserta.
Rasa penasaran yang terlalu tinggi merubah konsentrasi Delisha. Arah yang telah jelas ditempuhnya berubah haluan. Aku harus ikut lomba itu, tegas hatinya.
Berteman google, kertas, pulpen, laptop dan teman-teman yang kadang membawa pada alam kegilaan imajinasi dijalaninya. Minus 3 hari membuat bantal harus iri pada tuts laptop. Draft proposal pun harus merintih mencoba mencari perhatian. Delisha semakin jauh dalam dunia imajinasinya. Kesibukan teman-teman dan nuansa hangat konsultasi dengan pembimbing tak melenakan Delisha.
“Sudah ada kupon Kak?” tanya Delisha.
“Belum, nanti Sukma yang belikan. Sudah selesai naskahnya?” Delisha hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan kak Vina.
Minus 1 hari lagi pemasukan berkas lomba ditutup. Delisha telah merampungkan semuanya. Dengan langkah ringan dia pergi menunaikan kewajiban sebagai mahasiswa.
“Hai Delisha, kemana saja? Oh ya kalau tidak salah kamu dan teman satu pembimbing akan praproposal 3 hari lagi.” Ucapan Gina meruntuhkan bangunan senyum di pipinya. Delisha tak mampu menjawab apa-apa. Sungguh dia belum siap dengan semua itu. Tak pernah disangka secepat itu arus membawanya pada ambang akhir kampus.
Kembali Delisha berjuang di sisa nyali yang dimilikinya. Malu, sungguh malu pada berkas-berkas proposal yang pernah dia abaikan demi reputasi dan penghargaan yang belum pasti. Bab 2 masih terlalu gersang sedangkan bab 3 dan 4 menari tak sabar untuk segera dijamah. Hari-hari itu berguguran. Delisha pun terkapar di gulita malam.
Rabu, 18 November 2009
Ada Kalanya

siapa yang tahu bila langkah ini tersandung dan harus meneteskan pilu di wajah.
siapa yang menduga kalau hati terkadang diambang ketidakberdayaan
adakalanya pandangan rabun oleh silau perasaan yang lembut, membawa hati pada pencarian yang kandas.
fenomena-fenomena dalam gerak juang memang tak lepas dari godaan. apalagi kerikil tajam yang menyentuh kadang terlalu sakit menggores hingga sanubari. Tapi semua itu akan membawa kita pada kedewasaan dan kebijakan.
Coba lihat!!!daun-daun di pohon yang rindang tak selamanya bertengger gagah di dahan. Mereka berguguran dalam lelahnya. Ada yang jatuh sia0sia, tapi ada pula yang membusuk kemudian menjadi pupuk yang menambah suburnya pohon itu. Hingga lahirlah daun-daun segar baru menggantikannya.
semua mencoba menjadi yang terbaik walau mereka tahu tak mungkin mampu sempurna.Ada ungkapan yang mengatakan "bila tak mampu menjadi beringin yang tumbuh di puncak bukit maka jadilah belukar. Belukar yang terbaik tumbuh di tepi danau. Bila tak mampou menjadi belukar jadilah rumput tapi rumput yang terbaik yang memperkuat tanggul pinggiran jalan. Jika kita tak mampu menjadi jln raya, jadilah saja jalanan kecil yang membawa orang ke mata air. Tak semua orang akan menjadi nahkoda, tentu ada awak kapalnya. Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya diri kita tapi sejauh mana kita bekerja dan menyelesaikannya"
Kamis, 01 Oktober 2009
Pilu

Segelas air putih kupaksa melewati kerongkongan. Hambar. Riak kemelut batin bercampur kecewa mulai memuai di mata. Potongan kisah hariku memenjarakan dalam buih tanya.
“Persetan dengan persahabatan. Mungkinkah ada pertemanan yang tulus tanpa kepentingan?” Kucengkeram gelas air minum dengan geram. Terbayang senyum indah di wajah curang Inez, menyayat gemilang prestasiku. Kejernihan mata Anggun telah berhasil menyilaukan harta keluargaku.
Ah… BRUKK
Akhirnya gelas di tangan takluk pada kerasnya lantai. Pecahan-pecahan kemilau itu semakin memudarkan ceriaku. Tersungkur di dasar menara ketenaran yang kubangun.
“Tuhan… Kenapa ini terjadi padaku? Dimana ketulusan itu?” Hatiku gelap. Tarian istigfar tak kuhiraukan lagi. Kuraih kunci CR-V silverku. Berusaha lari dari kepungan asap kecewa.
Alunan adzan, entah mengapa selalu berhasil meraihku. Kuparkir CR-Vku di depan mesjid kampus. Hiruk pikuk itu masih sama. Lamban dalam dawai berirama. Bulir-bulir wudhu berjalan di raut yang tak pernah lelah bergerak demi sebuah kemenangan pasti. Aku iri pada wajah tawadhu di tangga mesjid. Damai bersanding di sisi jiwanya. Bersenandung membingkai sibuknya dakwah.
Ah… Semu.
Niat yang telah terpancang kuat kuurungkan. Kupandangi kerikil basah di taman mesjid.
“Oh, afwan.” Seorang gadis menabrakku. Aku tak peduli, dan malah sibuk mengamati jilbabnya.
“Aku tidak sengaja. Anda marah ya?” Kupingku memerah. Sekedar basa-basi, batinku. Terlanjur gelap hatiku untuk melihat sebuah keramahan.
“Tidak.” jawabku sekenanya.
“Tapi, kedengarannya tidak ikhlas. Keikhlasan itu perhiasan terindah akhlak, lho.”
“Kamu tidak bisa lihat ya? Aku tuh tidak apa-apa” Intonasiku meninggi.
“Afwan aku buta. Syukurlah.” Sesungging senyum pisah yang sangat manis.
Kutinggalkan mihrab suci itu. Menyusuri lekukan pilu yang tiba-tiba bergabung dengan kecewaku. Berjalan tanpa arah pada titian rapuh jiwaku dan berhenti di keremangan magrib di kotaku. Selintas kupandangi para jamaah yang bertengger pada sucinya niat.
“Kenapa aku kembali kesini lagi?” tangisku pelan. Sepi. Hatiku sendiri meraung melewati pilu. Kuseret langkah menuju tempat wudhu. Aku iri pada kerikil di taman mesjid yang selalu basah. Damai dalam genangan air wudhu.
"Syukran Via." Sayup kudengar suara tadi sore.
Gadis itu, ucapku lirih. Senyum yang tak pernah hilang. Berdendang dalam salam. Senada dengan gurau. Berbalas tawa dan rangkulan. Aku sakit memandang keakraban itu. Disanakah persahabatan yang tulus bisa kutemukan?
Sejuknya wudhu terpaksa kuabaikan. Kudekati dia. Mencoba merangkai cerita baru. Senyum itu selalu anggun di wajahnya. Teduh, mengukir ikhlas dan syukur. Bagaimana mungkin ada syukur dibalik ketidaksempurnaan?
“Aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk mendengar ayat-ayatNya. Aku memang tidak bisa, melihat tapi aku yakin Dia Maha Melihat. Kusyukuri semua yang ada. Iman, keluarga, saudara, teman dan sahabat.”
Nalarku kembali meronta. Sahabat? Bergetar lidah berusaha mematahkan kebenaran. Terlalu jauh kecewa merambah hatiku.
“Cobalah memahami apa yang ada disekitar kita. Jangan pernah menuntut untuk selalu dimengerti karena yang bisa mengerti diri kita adalah diri kita sendiri.”
Kamu tidak mengerti Alya-nama gadis itu. Terlalu banyak lumpur khianat bergelantungan. Menjaring persahabatan dan ketulusan pada sarang kelabu. Melenyapkannya dari nuansa hari-hariku.
“Ukhuwah adalah ketulusan persaudaraan karena dihimpun oleh iman.” Alya mencoba menyelami jiwaku. Kucoba merangkai kembali memori cerah masa beliaku di kampus.
“Mukenanya ukhti.”
“Oh, syukran.”
“Ukhti sehat?”
“Alhamdulillah.” jawabku dengan senyum.
“Jadi dong ikut ke rumahnya Ummi Aminah? Rugi lho kalau tidak datang. Aku jemput ya.”
Aku pun bergerak pada arus yang sama walaupun justru bermuara pada lembah yang beda. Persaudaraan yang kuanggap begitu tulus. Tapi dimana mereka saat aku terjatuh? Dan saat para iblis menyeretku?
“Oh...” Kutangisi piluku. Tetesan bening di pipiku kini membasahi kerikil di taman mesjid yang akan selalu basah. Kuberlari berusaha menjauh. Mencari penawar pilu. Begitu galau nuraniku. Entah apa sebenarnya yang kucari? Mungkinkah ada yang bisa memahamiku? Hanya satu yang kuyakini. Sejauh apa pun aku berkelana, kuyakin pasti akan kembali kesini.
***
Kususuri jalan siang tadi. Kembali kepangkuan zona nyaman bahteraku. Namun, Kawasaki di persimpangan sana mencoba melawan maut. Aku tak tahu kenapa bumi terasa berputar bukan pada porosnya. Matahari pun kehilangan sinar. Dan semua potongan-potongan film kemarin kembali muncul.
“Mau ke pestanya Uki tapi bajuku jelek-jelek. Traktir dong Sof! Satu aja cukup.”
“Sorry Anggun. Aku lagi ingin menghemat. Pinjam bajuku saja. Atau tidak usah datang. Mendingan kita ikut acaranya Zakiyah.”
“What? Kamu sudah gila ya, Sof? Pesta mewah ditolak demi acara nggak penting.”
“Aku sudah janji. Nggak enak sama Zakiyah.”
“Kamu mau kembali menjadi orang yang sok sibuk mengurus…”
“Cukup. Mereka orang baik dan sangat baik. Mereka tidak pernah mengajak temannya untuk boros dan hura-hura nggak penting.”
“Kenapa kamu membela mereka? Bukannya kamu sendiri yang memutuskan hubungan karena tidak betah dan…”
“Itu karena kamu yang meracuni pikiranku dengan argumen-argumen basi.”
Uh... desahku mengiring potongan film lainnya.
“Kenapa kamu mengajukan judul yang sama. Itukan ideku Nez.”
“Kamu sih lamban.”
“Tidak bisa begitu dong. Itukan sama saja kalau kamu mencuri atau menciplak hasil pikiranku. Kamu curang.”
“Ini persaingan. Dalam persaingan tidak ada istilah seperti yang kau sebutkan itu. Karena toh yang akan dikenal orang adalah siapa nama yang tertera di karya itu. ”
“Aku kira kamu sahabatku. Yang bersedia mendengarkan curhatku. Menjadi juri dan pembimbing ide-ideku. Tapi aku salah. Kamu ternyata duri dalam daging.”
“Terserah kamu mau bilang apa. Ingat Sof, tidak ada orang yang ingin rugi. Apa yang bisa kau berikan padaku sebagai sahabat? Cuma sekedar tempat curhat dan peti penyimpang ide-ide kamu? Tidak Sof.”
Semua kini tampak pudar, suram,dan semakin gelap.
"Sof... Sof... Sofia bisa dengar suara mama kan? Ukh... Ukh... Ukh" Samar kudengar tangisan mama.
"Tuhan, jangan kau biarkan pencarianku berlabuh sampai disini. Aku masih ingin memandang kerikil-kerikil basah di taman mesjid." Pada rapuhnya jiwaku sempat terbayang senyum Alya dalam majelisnya sebelum cairan infus bercampur cairan tubuhku. Benarkah yang kucari ada disana?
Langganan:
Postingan (Atom)