Kamis, 14 Januari 2010

Bila Cinta


Bila cinta
Arus-arus berdendang memecah batu
Gelombang menghapus bibir tak lepuh
Bila cinta


Ucapan manis menghujam terbalas senyum
Merembes kehormatan bernaung janji
Ah, bila cinta
Mahkota bertumit hitam bercahaya
Menggoyahkan roh2 sihir madu secawan
Bila…
Silau angkasa terbuai rona cemerlang
Cinta mengelus tengkuk berbulu nafsu
Dimana arti suci?
Fitrah tulus cahaya Ilahi
Biarlah membara
Mengikis peluh
Bila engkau cinta


Minggu, 06 Desember 2009

Sindrom Skripsi


Semester tujuh bagi sebagian mahasiswa bukanlah masa yang perlu merenggut separuh waktu. Berbeda dengan realita yang harus dijalani Delisha dengan teman satu kampusnya. Awal semester tujuh adalah ambang batas kecepatan arus kencang tak berperasaan bagi jiwa-jiwa penuntut kebebasan dan pengagum ketidakseriusan. Termasuk Delisha yang belum siap menghadapi puncak keseriusan langkahnya.
Berbagai gejala muncul satu per satu. Sibuk, lelah, pusing, bosan, hingga stress menampakkan wajah bengis di sepanjang koridor. Dengan modal 40% keseriusan ditambah 35% kesiapan plus 55% semangat,

Delisha mencoba masuk dalam bisnis reputasi akhir itu. Dia tak ingin tergilas waktu.
Di hari yang dianggapnya akan membawa keberuntungan, Delisha mencoba mengajukan judul hasil mesin terbaik otak. Lambat tapi pasti. Pelan tapi mulus, bujuk nuraninya. Entah sudah berapa detak jantung memaksa peluh bercucuran. Menegangkan urat saraf dalam jasad kaku di depan dosen pembimbing.
Senyum itu akhirnya mengembang tapi hanya beberapa detik telah terganti oleh gelengan kepala Sang Pembimbing disusul kata manis yang takkan terlupakan.
“Ajukan judul ulang ya!”
“Ya, Pak.” Hanya itu yang mampu keluar dari lidah kelu Delisha. Terpuruk, sudah pasti. Ingin berteriak melampiaskan kecewa tapi tak mungkin. Masih terlalu tinggi rasa malu yang dijunjungnya.
Berjalan dengan kepala teertunduk sungguh tak nyaman. Tapi entah sudah sejauh mana kaki melangkah Delisha tak mampu menatap ke depan. Trauma, mungkin itu yang dirasakannya.
Sapaan hari belum mampu melembutkan rasa sesal dalam hatinya. Hingga hati nurani bertindak. Kamu tak boleh seperti ini Delisha! Ayo bangkit, tunjukkan kalau kamu bisa! Bisikan itu sangat kuat menghujam hati kecilnya.
Tak ingin tertinggal terlalu jauh, dibongkarnya semua bahan kuliah selama ini. Slide-slide kuliah, catatan dan buku dilahapnya. Judul baru itu harus segera lahir. Semua sia-sia. Ide itu seakan terpenjara di ruang beku.
Bertambah sudah gejala baru dalam arus itu. Malas. Gejala itu memaksa jiwa-jiwa lelah lebih rajin ke perpustakaan dibanding kuliah. Di titik gerah itu Delisha berusaha membangun diskusi dengan teman-temannya.
“Gimana kalau aku ambil tema kespro tapi variabelnya media Hp?”
“Bagus juga, apalagi di kampung-kampung sekarang banyak sekali remaja yang buka facebook, internet gitu pakai Hp. Siapa yang tahu kalau mereka buka hal yang berbau pornografi.” Saran Neny.
Tema itu menghantui malam-malam Delisha. Yang akhinya pupus oleh judul baru dari rumusan bahan semester lalu. Dan tanda tangan tanda acc berhasil menghiasi lembar usulan judul Delisha.
Kini dia mencoba masuk dalam gelombang itu. Berkutat dengan hal-hal baru yang sulit dia bayangkan. Kuliah semakin menuntut eksistensi penulisan skripsi. Walaupun nyali yang terpancang kuat dalam benak Delisha mulai menyusut. Dia tak sanggup dalam himpitan keseriusan dan kesibukan. Ditambah tuntutan amanah luar yang semakin menyesakkan dada. Tak mampu dia berpikir jenih dalam hembusan nafas bebas. Hatinya ingin menyesali langkah itu tapi tak ingin ada penyesalan. Dan hanya mampu bertanya “Kenapa kondisi ini seakan sindrom yang menggerogoti raga, seakan tak mampu rileks menjalani hari?”.
Delisha tak ingin mendramatisi keadaan itu. Tapi merasakan sindrom itu membuatnya harus memacu diri lebih maju. Para jiwa-jiwa lelah seakan ingin segera meninggalkan kampus yang telah membesarkan jiwanya. Lari dari tuntutan peran besar sebagai mahasiswa. Ataukah mereka sudah bosan dengan aturan-aturan yang terasa mengganggu apresiasi diri.
Jauh di lubuk hati Delisha masih banyak hal lain yang ingin dicapainya sebagai mahasiswa. Mungkin bukan dari ranah akademik, tapi ranah lain yang ingin dia coba bangun. Masih ada rasa juang yang ingin diembannya disela tuntutan keluarga dan rasa iri pada pergerakan rekan seperjuangan.
Waktu semakin membawa Delisha pada ruangan sesak. Mencoba eksis meraup banyak waktu terbuang dari sisinya.
“Sa, sibuk sekali ya? Padahal ada lomba nasional bergengsi, kamu harusnya ikut.” Sukma mencoba menyadarkan tentang karirnya. Ajang bergengsi itu memang harus ada nama Delisha, setidaknya sebagai peserta.
Rasa penasaran yang terlalu tinggi merubah konsentrasi Delisha. Arah yang telah jelas ditempuhnya berubah haluan. Aku harus ikut lomba itu, tegas hatinya.
Berteman google, kertas, pulpen, laptop dan teman-teman yang kadang membawa pada alam kegilaan imajinasi dijalaninya. Minus 3 hari membuat bantal harus iri pada tuts laptop. Draft proposal pun harus merintih mencoba mencari perhatian. Delisha semakin jauh dalam dunia imajinasinya. Kesibukan teman-teman dan nuansa hangat konsultasi dengan pembimbing tak melenakan Delisha.
“Sudah ada kupon Kak?” tanya Delisha.
“Belum, nanti Sukma yang belikan. Sudah selesai naskahnya?” Delisha hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan kak Vina.
Minus 1 hari lagi pemasukan berkas lomba ditutup. Delisha telah merampungkan semuanya. Dengan langkah ringan dia pergi menunaikan kewajiban sebagai mahasiswa.
“Hai Delisha, kemana saja? Oh ya kalau tidak salah kamu dan teman satu pembimbing akan praproposal 3 hari lagi.” Ucapan Gina meruntuhkan bangunan senyum di pipinya. Delisha tak mampu menjawab apa-apa. Sungguh dia belum siap dengan semua itu. Tak pernah disangka secepat itu arus membawanya pada ambang akhir kampus.
Kembali Delisha berjuang di sisa nyali yang dimilikinya. Malu, sungguh malu pada berkas-berkas proposal yang pernah dia abaikan demi reputasi dan penghargaan yang belum pasti. Bab 2 masih terlalu gersang sedangkan bab 3 dan 4 menari tak sabar untuk segera dijamah. Hari-hari itu berguguran. Delisha pun terkapar di gulita malam.


Rabu, 18 November 2009

Ada Kalanya


siapa yang tahu bila langkah ini tersandung dan harus meneteskan pilu di wajah.
siapa yang menduga kalau hati terkadang diambang ketidakberdayaan
adakalanya pandangan rabun oleh silau perasaan yang lembut, membawa hati pada pencarian yang kandas.
fenomena-fenomena dalam gerak juang memang tak lepas dari godaan. apalagi kerikil tajam yang menyentuh kadang terlalu sakit menggores hingga sanubari. Tapi semua itu akan membawa kita pada kedewasaan dan kebijakan.
Coba lihat!!!daun-daun di pohon yang rindang tak selamanya bertengger gagah di dahan. Mereka berguguran dalam lelahnya. Ada yang jatuh sia0sia, tapi ada pula yang membusuk kemudian menjadi pupuk yang menambah suburnya pohon itu. Hingga lahirlah daun-daun segar baru menggantikannya.
semua mencoba menjadi yang terbaik walau mereka tahu tak mungkin mampu sempurna.Ada ungkapan yang mengatakan "bila tak mampu menjadi beringin yang tumbuh di puncak bukit maka jadilah belukar. Belukar yang terbaik tumbuh di tepi danau. Bila tak mampou menjadi belukar jadilah rumput tapi rumput yang terbaik yang memperkuat tanggul pinggiran jalan. Jika kita tak mampu menjadi jln raya, jadilah saja jalanan kecil yang membawa orang ke mata air. Tak semua orang akan menjadi nahkoda, tentu ada awak kapalnya. Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya diri kita tapi sejauh mana kita bekerja dan menyelesaikannya"

Kamis, 01 Oktober 2009

Pilu


Segelas air putih kupaksa melewati kerongkongan. Hambar. Riak kemelut batin bercampur kecewa mulai memuai di mata. Potongan kisah hariku memenjarakan dalam buih tanya.
“Persetan dengan persahabatan. Mungkinkah ada pertemanan yang tulus tanpa kepentingan?” Kucengkeram gelas air minum dengan geram. Terbayang senyum indah di wajah curang Inez, menyayat gemilang prestasiku. Kejernihan mata Anggun telah berhasil menyilaukan harta keluargaku.
Ah… BRUKK
Akhirnya gelas di tangan takluk pada kerasnya lantai. Pecahan-pecahan kemilau itu semakin memudarkan ceriaku. Tersungkur di dasar menara ketenaran yang kubangun.

“Tuhan… Kenapa ini terjadi padaku? Dimana ketulusan itu?” Hatiku gelap. Tarian istigfar tak kuhiraukan lagi. Kuraih kunci CR-V silverku. Berusaha lari dari kepungan asap kecewa.
Alunan adzan, entah mengapa selalu berhasil meraihku. Kuparkir CR-Vku di depan mesjid kampus. Hiruk pikuk itu masih sama. Lamban dalam dawai berirama. Bulir-bulir wudhu berjalan di raut yang tak pernah lelah bergerak demi sebuah kemenangan pasti. Aku iri pada wajah tawadhu di tangga mesjid. Damai bersanding di sisi jiwanya. Bersenandung membingkai sibuknya dakwah.
Ah… Semu.
Niat yang telah terpancang kuat kuurungkan. Kupandangi kerikil basah di taman mesjid.
“Oh, afwan.” Seorang gadis menabrakku. Aku tak peduli, dan malah sibuk mengamati jilbabnya.
“Aku tidak sengaja. Anda marah ya?” Kupingku memerah. Sekedar basa-basi, batinku. Terlanjur gelap hatiku untuk melihat sebuah keramahan.
“Tidak.” jawabku sekenanya.
“Tapi, kedengarannya tidak ikhlas. Keikhlasan itu perhiasan terindah akhlak, lho.”
“Kamu tidak bisa lihat ya? Aku tuh tidak apa-apa” Intonasiku meninggi.
“Afwan aku buta. Syukurlah.” Sesungging senyum pisah yang sangat manis.
Kutinggalkan mihrab suci itu. Menyusuri lekukan pilu yang tiba-tiba bergabung dengan kecewaku. Berjalan tanpa arah pada titian rapuh jiwaku dan berhenti di keremangan magrib di kotaku. Selintas kupandangi para jamaah yang bertengger pada sucinya niat.
“Kenapa aku kembali kesini lagi?” tangisku pelan. Sepi. Hatiku sendiri meraung melewati pilu. Kuseret langkah menuju tempat wudhu. Aku iri pada kerikil di taman mesjid yang selalu basah. Damai dalam genangan air wudhu.
"Syukran Via." Sayup kudengar suara tadi sore.
Gadis itu, ucapku lirih. Senyum yang tak pernah hilang. Berdendang dalam salam. Senada dengan gurau. Berbalas tawa dan rangkulan. Aku sakit memandang keakraban itu. Disanakah persahabatan yang tulus bisa kutemukan?
Sejuknya wudhu terpaksa kuabaikan. Kudekati dia. Mencoba merangkai cerita baru. Senyum itu selalu anggun di wajahnya. Teduh, mengukir ikhlas dan syukur. Bagaimana mungkin ada syukur dibalik ketidaksempurnaan?
“Aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk mendengar ayat-ayatNya. Aku memang tidak bisa, melihat tapi aku yakin Dia Maha Melihat. Kusyukuri semua yang ada. Iman, keluarga, saudara, teman dan sahabat.”
Nalarku kembali meronta. Sahabat? Bergetar lidah berusaha mematahkan kebenaran. Terlalu jauh kecewa merambah hatiku.
“Cobalah memahami apa yang ada disekitar kita. Jangan pernah menuntut untuk selalu dimengerti karena yang bisa mengerti diri kita adalah diri kita sendiri.”
Kamu tidak mengerti Alya-nama gadis itu. Terlalu banyak lumpur khianat bergelantungan. Menjaring persahabatan dan ketulusan pada sarang kelabu. Melenyapkannya dari nuansa hari-hariku.
“Ukhuwah adalah ketulusan persaudaraan karena dihimpun oleh iman.” Alya mencoba menyelami jiwaku. Kucoba merangkai kembali memori cerah masa beliaku di kampus.
“Mukenanya ukhti.”
“Oh, syukran.”
“Ukhti sehat?”
“Alhamdulillah.” jawabku dengan senyum.
“Jadi dong ikut ke rumahnya Ummi Aminah? Rugi lho kalau tidak datang. Aku jemput ya.”
Aku pun bergerak pada arus yang sama walaupun justru bermuara pada lembah yang beda. Persaudaraan yang kuanggap begitu tulus. Tapi dimana mereka saat aku terjatuh? Dan saat para iblis menyeretku?
“Oh...” Kutangisi piluku. Tetesan bening di pipiku kini membasahi kerikil di taman mesjid yang akan selalu basah. Kuberlari berusaha menjauh. Mencari penawar pilu. Begitu galau nuraniku. Entah apa sebenarnya yang kucari? Mungkinkah ada yang bisa memahamiku? Hanya satu yang kuyakini. Sejauh apa pun aku berkelana, kuyakin pasti akan kembali kesini.
***
Kususuri jalan siang tadi. Kembali kepangkuan zona nyaman bahteraku. Namun, Kawasaki di persimpangan sana mencoba melawan maut. Aku tak tahu kenapa bumi terasa berputar bukan pada porosnya. Matahari pun kehilangan sinar. Dan semua potongan-potongan film kemarin kembali muncul.
“Mau ke pestanya Uki tapi bajuku jelek-jelek. Traktir dong Sof! Satu aja cukup.”
“Sorry Anggun. Aku lagi ingin menghemat. Pinjam bajuku saja. Atau tidak usah datang. Mendingan kita ikut acaranya Zakiyah.”
“What? Kamu sudah gila ya, Sof? Pesta mewah ditolak demi acara nggak penting.”
“Aku sudah janji. Nggak enak sama Zakiyah.”
“Kamu mau kembali menjadi orang yang sok sibuk mengurus…”
“Cukup. Mereka orang baik dan sangat baik. Mereka tidak pernah mengajak temannya untuk boros dan hura-hura nggak penting.”
“Kenapa kamu membela mereka? Bukannya kamu sendiri yang memutuskan hubungan karena tidak betah dan…”
“Itu karena kamu yang meracuni pikiranku dengan argumen-argumen basi.”
Uh... desahku mengiring potongan film lainnya.
“Kenapa kamu mengajukan judul yang sama. Itukan ideku Nez.”
“Kamu sih lamban.”
“Tidak bisa begitu dong. Itukan sama saja kalau kamu mencuri atau menciplak hasil pikiranku. Kamu curang.”
“Ini persaingan. Dalam persaingan tidak ada istilah seperti yang kau sebutkan itu. Karena toh yang akan dikenal orang adalah siapa nama yang tertera di karya itu. ”
“Aku kira kamu sahabatku. Yang bersedia mendengarkan curhatku. Menjadi juri dan pembimbing ide-ideku. Tapi aku salah. Kamu ternyata duri dalam daging.”
“Terserah kamu mau bilang apa. Ingat Sof, tidak ada orang yang ingin rugi. Apa yang bisa kau berikan padaku sebagai sahabat? Cuma sekedar tempat curhat dan peti penyimpang ide-ide kamu? Tidak Sof.”
Semua kini tampak pudar, suram,dan semakin gelap.
"Sof... Sof... Sofia bisa dengar suara mama kan? Ukh... Ukh... Ukh" Samar kudengar tangisan mama.
"Tuhan, jangan kau biarkan pencarianku berlabuh sampai disini. Aku masih ingin memandang kerikil-kerikil basah di taman mesjid." Pada rapuhnya jiwaku sempat terbayang senyum Alya dalam majelisnya sebelum cairan infus bercampur cairan tubuhku. Benarkah yang kucari ada disana?



Kamis, 10 September 2009

gadis itu bernama Mutiah


Gadis Itu Bernama Mutiah
“Woi…tahan gadis itu. Kurang ajar, mereka mau main-main dengan aparat.”
“KEJAR…!!!”
“Aduh! Lindungi yang lain!”
“Ah…”
Aku pilu. Hiruk pikuk itu terhenti di ujung batas kebebasan. Sel penjara membingkai perih medan demonstrasi siang tadi. Pantulan suara hati teman mahasiswa di bibir kami berbuncah amarah lumrah mereka yang gelap hatinya.
***
Pikiran beku yang terkurung harus meronta saat langkah-langkah perkasa memecah sunyi.
“Bawa dia masuk!!!”
Tampak seorang gadis muda yang diseret ke dalam sel. Dia sangat kusut. Wajahnya pucat menyiratkan kepahitan.

“Sekarang kamu sudah punya teman disini.” bisik Pak Sipir pada gadis itu.
“Hai manis…” Aku tercekat. Mata Pak Sipir seakan menelanjangiku. Kucoba menenggelamkan tubuh di tembok beku. Pak Sipir mencoba menjangkauku.
“Jangan… Jangan sentuh aku!!!” pekikku tertahan dalam ruang hampa.
“Jangan sentuh dia!” Gadis itu mencoba membelaku. Pembelaan yang merongsokkan wajahnya. Tangan jahil Si Sipir beralih mencengkeram wajah lugu Sang Gadis. Hanya sesaat. Karena panggilan keramat menulikan Si Sipir. Dia pun beranjak pergi.
Ku hembuskan nafas lega. Niat hati berucap terimakasih pada Sang Gadis tapi dia mematung. Aku pun memilih terpekur dalam diam. Tatapanku tak lepas dari gadis muda berkulit hitam manis itu. Bibirnya terkatup dalam diam merona basah di wajah berbaur tatapan kosong. Menampilkan siluet gadis kecil berlari riang menyongsong Sang Ayah yang tertunduk. Riang berpendar menjadi pilu di ujung lidah yang berucap kebenaran berbuah kecurangan dari mereka yang culas. Mungkin ayahnya baru saja dipecat.
Aku terus berkelana di relung tatapan kosongnya. Udara dingin menyusup menambah perih tubuh yang lebam. Kurasakan dera membanting, meremukkan impian di garis kulit yang memerah. Gadis itu tampak rapuh, terkurung dalam terali besi yang kokoh. Entah sudah berapa pukulan dan tamparan mengenai tubuh itu. Dia ingin menangis, tapi air mata telah kering. Dia ingin berteriak, tapi untuk apa toh tidak akan ada yang peduli. Dia terbelenggu karena salah yang tak pernah dia tahu.
Tiba-tiba aku terjungkal, gadis itu mengeluarkan air mata tanpa suara. Bening tetesan itu membiaskan potongan pilu tentang ronrongan tiga laki-laki berseragam. Wajah Gadis Muram, gelar dariku. Dia harus rela menerima tamparan polisi berkumis yang tampak garang. Betisnya harus kuat menahan tendangan Si Perut Buncit yang kasar. Dan punggungnya harus tetap tegak walaupun pukulan Si Kribo sangat menyakitkan. Tetapi bibir itu tetap diam karena dia tak tahu apa-apa.
***
“Hai, namaku Indah. Makasih ya tadi. Ehm, kamu siapa? Kok kamu bisa disini juga?” Kucoba merajut perkenalan sebagai awal sulaman pertemanan. Tapi gadis itu tetap diam dan larut dalam alam pikirannya sendiri.
Malam kian larut. Entah sudah berapa ribu detik telah kulewatkan bersama Gadis Muram itu dalam diam? Ingin rasanya kukisahkan suasana demonstrasi siang tadi padanya. Tentang kemunafikan, kebodohan dan sikap pengecut mereka yang menganggap aksi kami hanya karena kepentingan sepihak.
Kelopak mata yang kupaksa tetap terbuka mulai kelu. Sunyi bersama diam adalah sebuah kolaborasi menjenuhkan. Kubaringkan tubuh yang penat oleh ketidakpastian dan kaburnya keadilan. Perlahan-lahan cahaya rembulan merayap di raut muka sosok yang sejak tadi setia kupandangi.
Dia tersenyum di tengah kegalauan hati. Digerakkannya tangan dan kaki mencoba menjangkau jeruji besi. Rupanya interogasi siang tadi meninggalkan sakit yang menyiksa hingga dia hanya mampu mengaduh dan kembali diam. Sungguh pilu melihat airmatanya jatuh memecah cahaya yang sempat bertengger di wajah.
Kucoba untuk peduli, tapi…sia-sia! Dia tetap diam membekap dada, menatap dinding penjara yang bisu. Kembali kucoba berkelana jauh dalam gelombang lurus tatapan itu. Nihil. Terlalu susah untuk menembus bayangan kisahnya. Di tengah kantuk yang menyiksa, aku menonton potongan film yang berkelebat dari suara pilu Si Gadis Muram.
Gadis muda berambut sebahu tampak diseret keluar dari rumah sederhana. Dia mencoba melawan tapi tenaganya tak sebanding dengan kekarnya otot-otot aparat kepolisian. Dia pun sampai pada batas kebebasan. Pria berseragam pengayom masyarakat, berwibawa tapi picik, mendekatinya dan berkata,“Dimana ayahmu, Si Teroris itu??? Kamu pikir mudah menyusup ke dunia ini, Ha…Sok pahlawan. Sok peduli. Sok suci. Orang kayak kalian mending diam aja di rumah. Tahu apa tentang dunia politik? Untuk apa pusing mikirin HAM, Korupsi dan SARA, yang penting kita senang. Sekarang jawab dimana ayah kamu? Biar dia tahu buah perlawanannya.”
Tiba-tiba aku meringis, gigitan nyamuk menyerang pipiku. Gadis itu telah terlelap padahal potongan film itu masih samar. Jadi gadis ini adalah anak seorang aktivis HAM yang mengungkap keculasan pembebasan wilayah seribu gunung. Bukannya dia seorang penulis berbakat yang sarat perjuangan? Diakah penulis muda yang setia menggores kebenaran dari mulut ayahnya? Pertanyaaan-pertanyaan nakal mulai berlompatan di alam pikiranku. Jangan tanyakan kenapa? Aku pun tak tahu keahlian apa yang ada di balik sikap kritis mahasiswa sepertiku, dan perjuangan apa yang kurencanakan malam ini?
***
Batas kebebasan yang kuanggap menghapus impian tak berlaku bagi Gadis Muram, teman satu selku. Ujung pulpennya tak pernah tumpul menggores kisah perlawanan hingga aku terlepas dari kurungan nasib di balik terali besi.
Siapa yang menduga kelincahan lidah Sang Pengacara mampu melumpuhkan kuatnya kemunafikan pihak yang bermata gelap. Gadis Muram berambut sebahu akhirnya mampu merajut kembali mimpinya dalam indahnya kebebasan, sebulan setelah aku terbebas.
Siapa sangka diam dan deritanya melahirkan tulisan fenomenal kemanusiaan. Andai dia takut menyusul ayahnya ke kota yang konon sejuta mimpi. Andai dia kehilangan ketegaran di atas altar suci kebenaran. Para algojo berdasi tidak akan memelas di himpitan terali besi.
Sungguh tak mudah mengukir kebenaran. Tapi perlawanan tak boleh tamat hanya karena fisik dan kekuasaan karena Gadis Hebat, gelar baru yang tersangkut- membuang gelar Gadis Muram-telah membuktikannya. Kelihaian susunan kata yang berjejer rapi di tiap lembar telah mengukir sejarahnya sendiri. Melantunkan nada perlawanan yang berbuah kebenaran.
“Hadirin, teman dan sahabatku semua. Sebelum berdiri disini. Abu-abu kepastian bertiup terang menyilaukan hingga aku tak mampu menatap cerah wajah hadirin. Aku takut gadis itu tidak datang di malam puncak penganugrahan pemuda terbaik bangsa ini. Dia pantas menjadi bintang terang malam ini karena perjuangannya melalui tulisan. Gadis itu tak pernah layu dalam menebar ide-ide gemilang, ide ceria, kasih sayang dan perlawanan. Dialah inspirasiku hingga akhirnya aku mampu berdiri disini mewakili bapak menteri pemuda dan olahraga. Gadis yang kuceritakan tadi bukanlah tokoh pewayangan ataupun tokoh negeri dongeng. Dia ada diantara kita sekarang. Duduk anggun dalam balutan kebaya ungu. Gadis itu bernama Mutiah.” Kuakhiri sambutanku dengan sebuah pesan perjuangan. Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan. Dan semua pandangan tertuju pada Mutiah, tapi gadis itu hanya diam.